Danbo Sedih

Menata Hati

Selama ini aku berpandangan bahwa hati manusia adalah hal yang paling mudah diatur. Bahwa hati adalah milik sejati seorang manusia dan manusia pasti lebih mudah mengaturnya, sebagaimana mereka menggatur kelima indera mereka. Demikianlah aku selama ini berpandangan.

Pada beberapa titik, memang mudah mengatur hati, mood, dan sebagainya. Hal yang biasa aku lakukan adalah berdialog dengan diriku sendiri. Jika dalam perdebatan antara hati dan pikiran tersebut dimenangkan oleh pikiran, maka hati akan mampu digerakkan.

Sederhananya begini. Ketika aku sedang sakit hati, maka aku akan mencoba berdialog dengan diriku sendiri apa penyebab sakit hati tersebut. Hal-hal yang aku anggap tidak patut aku alami mulai aku rasionalkan. Akupun masukkan sebagian pandangan dari berbagai sisi kemungkinan, contohnya jika aku disakiti seseorang karena keinginanku tidak terpenuhi olehnya maka aku mencoba berdialog, apakah sepatutnya aku merasakan sakit hati tersebut, apakah tindakanku memang salah atau dirinya, mungkin saja ada berderet alasan mengapa keinginan tersebut tidak dipenuhi olehnya.

Baca Selengkapnya

Incoming search terms:

Berbagi Hati

Hatiku untukmu seperti hatimu yang kau berikan untukku. Cinta menembus segala batas, bahkan melewati sebelas dimensi. Sebuah pertemanan aku coba ukir, agar setiap kita bisa menyebutnya: ABADI.

berbagi hatiSuatu hari aku berkata, “hatiku sedang retak.

Dia gaduh. Bertanya. Memintaku buka suara. Aku heran, kenapa malah dia yang menangis. Dia yang membuang semesta air mata dari kedua bola matanya yang indah. Memintaku untuk bersuara, ada kisah apa di balik hati yang menjadi bongkah.

Aku diam. Bungkam. Memilih untuk menyimpan.

Dia masih menangis. Aku tidak kuat. Terutama saat bilang benci. Dia benci saat aku terluka, mungkin lebih besar dari perasaanku yang senang saat melihatnya bahagia. Aku pun tak kuat. Melihatnya menangis aku luluh. Aku masih menyimpan, namun aku katakan kepadanya, “aku butuh hati.

Untuk apa?” Tanyanya heran.

Agar hatiku telah rongsok bisa aku buang,” jawabku.

Lalu, aku bagaimana?” Dia heran.

Kita berbagi hati.” Cuma itu yang bisa aku jawab.

Baca Selengkapnya