Puisi Untuk Jiwa

“Le, do you study poetry?” Confucius asked his son.

“No,” Le replied shamefacedly.

“He who does not study poetry is like a man with his face turned to the wall. Does a man with his face turned to the wall ever see anything beautiful?”

How The Great Religions Began (Joseph Gaer) –

puisi
sumber: kumpulremaja.blogspot.com
Puisi, nyatanya diciptakan oleh hati. Saya jarang membaca puisi yang tertuang oleh karena alam pikiran semata. Seringnya, saya membaca puisi-puisi yang ditulis dengan hati. Dan karena sebuah puisi ditulis oleh hati, maka yang membacanya pun harus menggunakan hati.

Semakin sering suatu puisi dibacakan, semakin indah dia. Seolah, antara dua hati sudah semakin mengenal. Pertama membaca, seperti malu tapi mau. Berikutnya membaca, seolah adalah seorang teman baru. Kemudian, lanjut menjadi sahabat lama. Lalu terjadi ikatan hati dan ada sebuah rindu dalam tiap bait kata.

Apa pernah mencium harum puisi? Tiap kata yang terpilih menjadi satu komposisi yang berbeda. Puisi seolah memiliki nyawa. Terkadang, ada puisi dengan harum kecut, ada pula yang mewangi. Untungnya, terlalu banyak mengkonsumsi puisi tidak akan menyebabkan obesitas.

Bacalah puisi. Semoga hatimu akan lembut karenanya.

Baca Selengkapnya

Incoming search terms: