Danbo Sedih

Menata Hati

Selama ini aku berpandangan bahwa hati manusia adalah hal yang paling mudah diatur. Bahwa hati adalah milik sejati seorang manusia dan manusia pasti lebih mudah mengaturnya, sebagaimana mereka menggatur kelima indera mereka. Demikianlah aku selama ini berpandangan.

Pada beberapa titik, memang mudah mengatur hati, mood, dan sebagainya. Hal yang biasa aku lakukan adalah berdialog dengan diriku sendiri. Jika dalam perdebatan antara hati dan pikiran tersebut dimenangkan oleh pikiran, maka hati akan mampu digerakkan.

Sederhananya begini. Ketika aku sedang sakit hati, maka aku akan mencoba berdialog dengan diriku sendiri apa penyebab sakit hati tersebut. Hal-hal yang aku anggap tidak patut aku alami mulai aku rasionalkan. Akupun masukkan sebagian pandangan dari berbagai sisi kemungkinan, contohnya jika aku disakiti seseorang karena keinginanku tidak terpenuhi olehnya maka aku mencoba berdialog, apakah sepatutnya aku merasakan sakit hati tersebut, apakah tindakanku memang salah atau dirinya, mungkin saja ada berderet alasan mengapa keinginan tersebut tidak dipenuhi olehnya.

Baca Selengkapnya

Incoming search terms:

senja

Kemarahan

Sudah dua hari, seseorang cuek kepada saya. Jika dirunut, pasalnya sederhana, saya membandingkan Aceh dan Bandung. Saya merasa Bandung akhir-akhir ini panas sekali, bahkan ketika malam. Tidak ada beda dengan Aceh yang juga panas, baik siang maupun malam. Hanya saja, di Aceh, saat kepanasan saya memiliki sebuah AC di kamar untuk mendinginkan diri. Tidak di sini. Hal yang cuma mampu saya lakukan adalah membuka pakaian saya dan berharap kulit saya lebih cepat bertemu dengan angin.

Terakhir, saya mengirimkan sebuah surel (email .red) kepadanya, dengan sebuah judul “Permohonan Maaf“. Entah dia sudah membuka surel tersebut, entah surel tersebut masuk ke dalam SPAM Folder, atau entah langsung dibuang. Saya bukan cenayang, bukan mereka yang bisa melihat dari mata jin yang bergentayangan. Saya cuma manusia biasa. Tapi, sampai sekarang, surel yang saya kirimkan belum juga ada balasan.

Kemarin, saya mengirimkan video lucu. Karena tahu bahwa nomor WhatsApp di handphone-nya telah memblokir saya, maka saya mengirimkan video itu ke nomor yang lain, sebuah nomor WhatsApp yang ada di tablet-nya. Hasilnya, bahkan nomor saya di tablet juga ikut diblokir.

Baca Selengkapnya

Manusia Tingkat Rendah

monyet
Sumber gambar: innercircleofsrcm.blogspot.com

Tahukah kamu, salah satu tingkatan manusia yang paling rendah? Yaitu mereka yang merendahkan orang lain. Baik dengan perbuatan mereka, ataupun perkataan yang menyakiti dengan tujuan merendahkan harkat dan martabat orang lain. Maka, sekali-kali, janganlah kamu termasuk kaum yang demikian.

Sering sekali kita berjumpa dengan orang-orang yang demikian. Mereka yang terdidik untuk merendahkan, yang mungkin juga dididik dengan cara yang sama seperti demikian. Lihatlah, bagaimana sedari awal, para anak yang belum begitu mengenal kebaikan dan keburukan dibiarkan mem-bully teman-temannya yang lain. Kita menganggap itu sesuatu yang lucu. Sampai kemudian, kita menjadi kewalahan dengan segala sifat yang sedari awal kita biarkan terjadi sedemikian rupa.

Kadang kita menjadi rendah saat membenci dan marah. Kita begitu mudah memaki, merendahkan, berusaha menghancurkan martabat seseorang ketika sedemikian hingga kebencian dan kemarahan telah memaksa mengambil peran akal sehat. Maka tidaklah jarang kita melihat pemukulan, makian, sering kali hadir dalam emosi yang memuncak. Patutlah nabi meminta kita berwudhu: untuk mengalihkan perhatian saat marah, untuk mendinginkan hati yang meledak, dan menghindari ulah setan yang akan ikut hadir dalam segala tindak.

Baca Selengkapnya

Emosi Manusia

Manusia seringnya melupakan logika ketika emosi sedang membara di dalam dada. Dan parahnya, mereka menyesali apa yang pernah didorongkan oleh emosi yang meletup karena faktor logika yang meredup.

Sering sekali kita melihat mereka yang terlalu terbawa emosi lebih sering menutup muka pada akhirnya karena perasaan malu, bersalah, atau gagal. Kita melihat di televisi, seorang pembunuh harus meratapi nasipnya karena emosi dorongan sesaatnya mampu membuatnya membunuh seseorang. Seorang pemerkosa harus menyesali seluruh perbuatannya karena emosi dorongan seksual sesaat yang meletup di dalam dadanya.

Emosi seringnya beriringan dengan napsu. Karenanya, ketika marah kita diminta untuk melakukan wudhu. Mengapa? Selain karena air itu dingin dan menenangkan, ternyata prosesi mengambil wudhu itu didasari oleh sebuah kesadaran, diharapkan implikasi dari kesadaran itu adalah kita kembali menempatkan logika dalam arah berpikir kita.

Sebenarnya, emosi itu adalah perasaan. Manusia wajib memiliki emosi, karena jika tidak, mereka tidak berbeda dengan robot yang tidak memiliki emosi. Hanya sayangnya kebanyakan manusia (termasuk aku) belum mampu mengkontrol emosi mereka secara penuh. Inilah faktor dasar mengapa emosi harus dikekang agar emosi itu tidak malah berbalik menyengsarakan.

Aku adalah anak yang terlahir dari emosi. Emosi cinta ibu dan bapakku terhadap cinta mereka melahirkan aku. Tanpa emosi, aku tidak ada. Tanpa emosi, aku tidak di dunia.

Baca Selengkapnya