Pertemuan Pertama

Walau aku tidak lulus tes di PT Chevron Pacific Indonesia, namun aku tetap merasa beruntung. Pada hari itu aku beruntung telah bertemu untuk kali pertama dengan seseorang yang aku sebut “Bidadari Ketiga“. Seseorang yang selama ini cuma aku lihat di internet, cuma saling bertegur sapa lewat alphabet, sekarang juga bisa aku dengarkan suaranya ketika berbicara dan bisa aku lihat secara live bagaimana cara dia tersenyum.

Jauh hari sebelum tanggal 10 Desember 2011 itu, aku sudah kabarkan bahwa aku akan ke Jakarta untuk mengikuti tes Chevron itu, bahkan dia salah satu pemeran pengambil keputusan apakah aku akan ke sana atau tidak? Ada banyak kendala, pertama seperti yang sudah diprediksi sejak awal: aku belum tentu lolos dalam tes perusahaan berskala internasional tersebut, kedua biaya yang besar untuk akomodasi aku ke sana, dan masih banyak pertimbangan yang lain.

Namun akhirnya, aku putuskan untuk berangkat ke sana setelah mendapatkan sebuah email yang masuk ke inbox-ku pada tanggal 8 Desember 2011, dan aku mencari tiket pesawat ke Jakarta pada tanggal 9 Desember 2011.

Mungkin tes Chevron itu bisa dikatakan adalah jalan, sebuah jalur lain yang disediakan Tuhan agar kami sama-sama mengenal satu dengan yang lainnya. Supaya aku mampu melihat bagaimana kondisi real seorang yang sebut bidadari itu dengan sebenarnya.

(lebih…)

Tentang Bidadari Ketiga

Rasanya lama sekali, aku tidak memanggilnya dengan sebutan bidadari ketiga. Aku sekarang lebih sering memanggilnya dengan sebutan kamu, atau cuma memanggil dengan sebutan namanya.

Aku kembali ke masa-masa di mana aku memiliki alasan untuk memanggilnya bidadari ketiga. Dia mengajarkan aku apa yang tidak diajarkan oleh kedua bidadari sebelumnya: “mimpi, harapan, keinginan, kehidupan

Akhir-akhir ini aku kembali sering mengunjungi blognya. Kemarin-kemarin aku mempuasakan diri melihat apa yang ditulis olehnya. Sering sekali, tulisannya membuat jantungku berdetak lebih kencang karena seringnya aku menangkap sesuatu dengan tafsiran yang berbeda dengan inti dari sebenarnya yang tertulis. Kadang aku suka cemburu ketika dia menuliskan tentang salah seorang tokoh, atau berkenaan dengan seseorang.

Dari dua bidadari sebelumnya, cuma bidadari kedua yang aku suka. Sedangkan bidadari pertama bagiku adalah seorang teman dekat. Aku menyukai bidadari kedua karena dia memang “good looking” atau manis, yang namanya juga manusia pasti kita menyukai hal yang indah-indah. Tetapi, pada bidadari ketiga, aku menyukainya bukan karena fisik. Awal mengenal bidadari ketiga, aku tidak mengganggap bahwa dia cantik, bahkan sama sekali tidak tertarik.

(lebih…)

Mentawarkan Kesedihan

Ada banyak kesedihan yang harus ditawarkan dalam setiap perjalanan kehidupan. Bahkan pun gembira harus ditawarkan, agar tidak menjadi terlalu manis, asin, ataupun pahit. Kebanyakan orang tidak pernah mentawarkan diri mereka kepada kebahagian, seperti manis yang selalu hidup di dalam diri kita. Kita terus mengkonsumsi manisnya kehidupan sehingga tidak punya ruang untuk mengingat bahwa dalam setiap episode, ada namanya kesedihan.

Kesedihan seringnya datang dengan berbagai rasa. Aku kadang merasakannya sebagai suatu yang pahit, lebih pahit dari obat. Kadang asin, lebih asin dari lautan ataupun tambang garam. Kadang serupa manis yang keterlaluan.

Banyak yang bingung. Bagaimana kesedihan mampu datang dalam bentuk yang begitu manis. Kadang, dalam suatu rasa kesedihan, ada sebuah rasa seperti mendapatkan berita baru dalam suatu kehidupan. Menambahkan satu poin kebijakan dalam memandang hidup ini. Aku memberikan rasa manis terhadap kesedihan yang demikian. Manis yang keterlaluan.

Namun, apa yang aku rasakan saat ini belum mampu aku jabarkan. Dalam kategori manakah kesedihan yang sedang berlangsung ini. Apakah dia akan menjadi sesuatu yang aku sebut pahit, ataukah asin, atau mungkin jika kelak di ujung aku akan menyebutkan sebuah rasa manis yang ditawarkan kehidupan oleh rasa luka.

(lebih…)

Aku Tidak Akan Mengganggumu Lagi

2 Mei 2011. Aku harus mencatat tanggal ini. Bersamaan dengan Hari Pendidikan Nasional, aku pun telah membuat janji pada diriku sendiri: AKU TIDAK AKAN MENGGANGGUNYA LAGI.

Kisah selengkapnya, biarlah livejournal-ku yang berkisah. Biarlah aku dan orang-orang terdekatku yang membaca, bahwa mungkin seseorang memang tak pernah ingin diganggu lagi olehku. Mungkin aku telah menjadi sangat mengganggu dirinya.

Seharusnya, kata-kata perpisahan bukanlah menjadi bagian poin dari sesuatu yang bisa dicandakan. Karena ada banyak kesedihan dalam sebuah perpisahan. Dan ketika seseorang mulai menganggap aku begitu mengganggu, maka akan akan mencoba tulus meninggalkannya. Aku tidak pernah ingin menyakiti siapa pun walau pun terkadang, aku yang paling banyak menyakiti orang lain.

Aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku berjanji. Karena aku mencintai kamu.

Rindu dan Gila

Kerinduan. Berjalan pelan-pelan di antara hati kita. Walau kita sama-sama berdiri dalam keberdiaman, jauh dari suatu kebisingan. Aku dan kamu yang saling jatuh rindu. Sama-sama yang saling jatuh gila.

Bagaimana jika aku rindu?” Seseorang kembali bertanya.

Aku diam. Entah mungkin bisa dijabarkan lewat seribu bahasa. Yang jelas, aku cuma mampu diam. Karena jika aku berbicara, aku tidak akan mampu berbicara dengan satu bahasa. Butuh banyak bahasa untuk mengungkapkan kerinduan. Jika dipaksakan cuma satu bahasa, yang ada cuma racauan. Ricuh bertubi-tubi dari bibir yang tidak lagi mampu akulturasi dengan otak yang dihimpit beban.

Kadang, jika demikian aku akan bertanya. “Apa kau rindu aku?

(lebih…)