Memeluk Ayah

Ada satu keinginan yang tidak berani aku lakukan, yaitu memeluk ayahku dari belakang terus aku katakan: “Ayah, aku sayang kamu”

Saat umurku sudah semakin tua dan dewasa, aku semakin menjauh dari orang-orang sekelilingku. Aku malu untuk memulai pembicaraan, atau memulai sesuatu yang bersifat istimewa. Pada ulang tahunku yang ke 25, aku dihadiahi sebuah kue besar berwarna coklat, manusia bumi menyebutnya kue tart atau blackforest. Saat itu, aku sangat malu, malu dalam bentuk yang positif yang orang-orang inggris mengatakannya sebagai blushing, sebuah episode yang jika dianimasikan adalah pipimu menjadi merah seperti buah strawberry.

Ayah adalah seorang yang sangat perhatian kepada keluarga ini. Walau terkadang, yang namanya manusia ada kalanya bisa jadi menyebalkan tetapi hal itu seperti setitik debu dibandingkan dengan semua hal yang telah dia lakukan untuk keluarga ini.

Walau samar, namun aku masih mengingat saat umurku beranjak remaja, entah mengapa aku memintanya kembali menggendongku di belakang punggungnya. Dulu sekali, saat aku masih begitu kecil aku suka digendongnya di belakang punggungnya. Kadang, aku suka digendong saat hendak tidur atau bangun tidur.

(lebih…)

Jika Ibu Adalah Kartini, Maka Siapa Ayah?

Beberapa jam lagi akan menjadi pengubah tanggal, dari tanggal 21 April menjadi tanggal 22 April. Lalu apa masalahnya? Masalahnya, semua pembicaraan tentang Kartini dan Perempuan akan lenyap, berganti dengan topik-topik lainnya. Ya, memang harus begitu, masa mau ngomongin hal yang itu-itu saja tiap harinya.

Yups, benar sekali. Tidak bisa disangkal, kalau sudah menyinggung tentang perempuan biasanya akan marak di tiap tanggal 21 April dan di 22 Desember. Inilah dua bulan kepunyaan perempuan. Setelah itu? Bablas. Boro-boro disinggung, diingat saja sudah sukur.

Wah, kalau begitu perempuan sepatutnya bangga, masih ada yang mau mengingat mereka meski hanya dua kali dalam setahun. Lalu bagaimana dengan Laki-laki? Jangankan disinggung, diingat saja syukur.

(lebih…)