Sekufu

Sekufu. Dulu aku mengira bahwa sekufu itu adalah persepsi dari tingkatan iman, sehingga suatu hari aku diingatkan: “siapa yang mampu menilai tingkatan iman seseorang kecuali Allah?

Aku merenung. Dia benar.

Salah satu yang terbaik dalam mencari pasangan nikah adalah sekufu. Sekufu yang berarti bersederajat. Jika seseorang itu dari seorang bangsawan, alangkah lebih baik jika pasangannya juga bangsawan. Kesederajatan ini membuat salah satu pasangan tidak minder kepada pasangan yang lain jika terjadi masalah.

Dulu aku mengira sekufu ya berarti iman, bukan dalam konsep kesamaan pendidikan, kedudukan, atau kehormatan. Bukankah manusia itu setara di mata Tuhan dan yang paling bagus manusianya adalah yang paling takwa. Awalnya aku mengira demikian, bahwa sebagai seorang tarbiyah aku harus mencari seseorang yang juga berasal dari kalangan tarbiyah.

Namun, ternyata dikotomi dalam pengertian sekufu itu bukan dari keimanan. Karena cara pandang manusia teramat berbeda dengan konsepsi cara pandang Tuhan.

Jika sekufu dinisbatkan ke dalam pengertian keimanan, bukankah semua orang itu sama imannya? Islam! Lantas mengapa sekufu ditekankan dalam mencari pasangan hidup?

Apakah jika tidak sekufu tidak boleh menikah? Boleh! Tidak ada larangan untuk tidak menikahi orang-orang yang tidak sekufu, namun teramat dianjurkan untuk menikahi mereka yang sekufu. Tujuannya adalah terciptanya harmonisasi dalam berumah tangga, dan tidak terjadi saling keterkejutan.

Seorang lelaki yang TIDAK memiliki pendidikan tinggi suatu hari mencintai seorang wanita dari kelas atas. Suatu hari lelaki itu berhasil melamar sang wanita setelah melalui berbagai rintangan dan cobaan. Dari keluarga wanita, semua menentang, lelaki tidak pantas. Apa tidak ada yang lebih baik daripada si lelaki? Memang si lelaki baik, namun kebaikan saja tidak cukup untuk menjalani suatu perjalanan serius di jalan bara kehidupan.

Namun karena keukeuh-nya sang wanita, maka mereka berhasil bersatu. Perjalanan hidup setahun, dua tahun, berjalan dengan lancar. Memasuki tahun ketiga mulailah prahara berdatangan.

Dalam pertemuan keluarga, sang lelaki sering menjadi gunjingan dari keluarga besar sang wanita. Alasannya karena sang lelaki tidak pantas berada satu kepala dengan orang-orang di sana. Wanita awalnya bersabar, namun keadaan membuat semua rasa sabar terkikis sempurna.

Para lelaki yang dulu mencoba melamar sang wanita sekarang telah menjadi orang yang sukses, kontras dengan sang lelaki yang cuma PNS sederhana. Sang wanita pun mantap menjalani hidup sebagai wanita karir.

Wanita mulai melihat lelaki dengan kacamata yang berbeda dari ketika cinta masih bersemi di dadanya.

Suatu hari perang rumah tangga pecah. Wanita menyumpah dengan keburukan lelaki, betapa lelaki tidak setara dengannya. Wanita membanding-bandingkan lelaki dengan orang-orang yang dulu mendekatinya. Wanita kecewa.

Segala kebaikan lelaki sirna. Seperti hujan yang menghapus setahun tandus.

Ada dua hal yang menyebabkan kebanyakan wanita masuk ke dalam jurang: seringnya menyumpah dan kufur kepada kebaikan suami.

Contoh di atas memang agak ekstrim, namun itulah pentingnya sekufu dalam suatu pernikahan. Bagi seorang lelaki, akan lebih mudah menerima wanita yang memiliki derajat beberapa di bawahnya namun kepada seseorang yang derajatnya lebih tinggi rasanya akan sulit.

Sekufu tidak harus saling kesamaan pendidikan, atau gelar kebangsawanan. Namun ada sesuatu yang mampu mengimbangi, seperti seorang wanita kaya dengan seorang lelaki berpendidikan tinggi, shaleh, dan kuat ibadahnya. Atau demikian sebaliknya.

Walau terkadang, mendapatkan fakta demikian seakan miris. Mungkin suatu hari aku mencintai seorang syarifah, yaitu mereka yang berasal dari keturunan habib. Pasti pernikahanku tersebut akan ditentang (dipersulit) karena ketidak sekufu-an yang ada.

Namun bagi orang-orang dengan derajat keimanan tinggi, lagi bersabar serta ikhlas. Maqam sekufu selayaknya sudah dikhatamkan sejak semula.

Saya sendiri berpendapat, mendapatkan pasangan yang sekufu itu lebih ditekankan kepada para wanita, karena melihat kondisi dari hadist bahwa kebanyakan wanita jatuh ke dalam neraka karena kufur kepada kebaikan suaminya.

Mungkin pendapat ini akan berubah, tergantung dari ilmu kemudian yang saya dapatkan. 🙂

Incoming search terms:

  • Makanya cari wanita yang baik2 ben, InsyaAllah selamat dunia akhirat.

  • orang-orang yang pernah beni cintai juga wanita baik-baik bang. Tidak ada yang buruk 🙂

  • Sudah pernah baca Cerpen Cinta Laki-laki Biasa karya Asma Nadia?

  • Di dalam cerpen apapun bisa ditulis Za, memang syarat sekufu itu agar menjaga keharmonisan rumah tangga. Walau tidak dipungkiri terkadang ada anomali-anomali dalam kehidupan ini.

    Ingat dengan kisah Zainab dan Harist?

    • annisa

      🙂 tinjauan yang bijak. ini terjadi pada sahabat saya. tentang sekufu itu. dan pahitnya, berakhir pada meja persidangan. sang wanita yang terbiasa dengan kehidupan serba mudah, dan sang laki-laki yang terbiasa berjuang. di tengah-tengah, ketika perjuangan itu tak selalunya mulus, sang wanita yang tidak tahan dengan kondisi serba terbatas, memilih untuk meninggalkan.

  • Pingback: Facebook Mobile()