Cuma Untuk Manusia

Aku lihat perempuan-perempuan, lelaki-lelaki. Mereka manusia atau hewan? Jika hewan, marilah kusebut mereka betina-betina dan pejantan-pejantan.

Engkau lihat. Perempuan-perempuan yang engkau kata adalah pembaharu, mereka dengan ide-ide kesetaraan. Mereka tak lebih daripada pembodohan. Mereka cuma pesolek. Mereka lacurkan wanita kembali kepada kebiadaban hewani. Mereka solek wanita-wanita lantas pria pun berdecak kemudian apa yang terjadi: pria tidak lagi menilai wanita dari kewanitaan selain daripada kecantikan. Tak ada lagi harga bagi ide-ide segar yang dipanggang dari otak-otak wanita. Wanita menjadi betina.

Dan untuk lelaki. Engkau agungkan lelaki dari otot-otot mereka. Engkau bawa lagi lelaki jauh ke dasar jurang hewani, ketika lelaki cuma menjadi pekerja. Lelaki sejati dinilai dari seberapa tangguh otot-otot mereka. Engkau sadari itu. Kau juga hewan.

Apa yang disebut dengan manusia?

Tahukah kamu apa yang membedakanmu dengan hewan teman? Bukan dari rupa. Bukan pula ototmu yang mengeras kekang. Tidak juga dari seberapa tangguh kau di ladang pembantaian. Kau bukan hewan kawan, kau itu manusia. Pahamilah apa yang disebut dengan manusia.

Marilah. Mari kuceritakan tentang manusia. Tentang awal mula Tuhan ciptakan engkau langsung dari tangan-Nya. Tidakkah engkau bangga? Ketika semua benda tercipta dari kata, engkau dibentuk sedemikian rupa dari tangan-Nya yang Esa.

Namun ketiga engkau telah turun ke dunia. Kau kuburkan dirimu menjadi binatang lagi. Tak layak lagi kusebut kau dengan perempuan atau laki-laki, namun menjadi betina atau jantan. Karena itulah sebutan yang pantas untuk para hewan.

Terkutuklah engkau yang hidup dari menjual rupa. Tak ada yang kau persembahkan bagi bumi ini. Terkutuk!

Dan engkau yang hidup dengan menjual ototmu untuk diperaga. Terkutuk juga.

Kepada mereka yang melenakan diri, menarikmu kembali kepada nasip kebinatangan. Engkau juga harus dikutuk.

Manusia sejati tidak dihargai dari apa yang telah mereka peroleh. Tidak dihargai dari rupa mereka, bentuk badan, bangsa, dan ras. Itu hanya bagi para hewan. Manusia sejati dihargai oleh apa yang mereka hasilkan. Apa yang mereka persembahkan bagi kemanusiaan. Mereka yang tidak membeda-bedakan.

Derajat manusia dan sampah adalah sama. Kita menjadi satu derajat dengan ekosistem di sekitar kita. Tak ada yang lebih tinggi kecuali satu hal: apa yang telah kita perbuat.

Hari ini engkau perhatikanlah. Berbagai binatang tumpah ruah. Mereka memakan sesama mereka. Mereka bersenggama seperti layaknya anjing. Tak ada kesetiaan. Terkutuk mereka, bahkan hewan tak ada yang membunuh anak-anaknya ketika mereka belum dilahirkan.

Di kotak penuh warna dengan ragam manusia. Aku tidak melihat manusia. Kebanyakan kulihat adalah hewan dan binatang. Mereka hanya berganti rupa, berdandan, dan merasa lebih tinggi derajat daripada yang lain. Mereka salah.

Tulisan ini cukup di baca. Jangan disebarkan. Karena aku tak tahu siapa yang akan membaca, apakah hewan, binatang, atau sejati manusia. Cuma Untuk Manusia, tulisan ini kucipta.

  • tulisan mu memang benar, ben. tapi jangan terlalu keras.
    toh semua sudah rencana Tuhan. dan, gw yakin, gak semua juga seperti itu. Tuhan sudah menjatah dan memplot semua ini.

    yang penting hidup aja sesuai ajaran Tuhan, dan dengarkan kata hati sendiri. 🙂

    ps: apa kabar kau ben?

  • Cha2

    Darimana qe dpt ide gitu? Qe mu ngejek aq,atau apa?

  • Beginilah akhir zaman,,, susah tuk mmbedakab antara Manusia dan Hewan,, sudah serupa perilaku’a…..
    Menyedihkan bang…

    Moga smua yg mmbca tlisan ni btul2 manusia sejati (pikiran+badan)…….

    Nice posting….
    Berharap ”hewan2” tsb sadar n d ampuni oleh Yang Maha Penyayang…

  • Arumi Olive

    Tulisan yang membuka mata hati,tapi cuma buat yang punya hati.Membukakan akal pikiran,itupun juga buat yang punya akal pikiran.

    Mungkin benar untuk komentator pertama,perlu pendekatan kata yang lebih halus.

    Tapi dari judulnya saja sudah”Catatan seorang lelaki egois,semau gue dan mudah menyerah”
    So,up to you lah.Berharap ada hikmah dari setiap kisah yang loe tulis.

  • terimakasih mbak Arumi atas komentarnya 🙂