Kesombongan dan Kekanakan

Beberapa waktu yang lalu, aku melihat keponakan-ku begitu ceria. Abi-nya baru pulang dari Medan, membawakan oleh-oleh. Dan yang paling dia suka adalah komputer mini yang akan menyuarakan huruf saat tombol ditekan dan baju-baju baru untuk lebaran nanti. Kebetulan, dua sepupu-ku juga sedang ada di rumah. Keponakan-ku, Khansa, memamerkan seluruh barang barunya itu kepada keduanya. Begitu bahagia. Begitu ceria.

Melihatnya bahagia, penuh bangga memamerkan barang-barang barunya, membuatku berpikir: Apakah kesombongan itu telah ada pada benak manusia sejak dahulu kala? Atau, kesombongan hanyalah bagian dari jiwa kekanak-kanakan manusia yang masih bersisa.

Tidak jarang kita melihat manusia begitu bangga dengan barang-barang barunya atau sesuatu yang dianggapnya wah. Entah itu barang baru, pengetahuan baru, atau mungkin, seorang teman baru. Maka duga-ku, ini alasan kenapa fenomena selfie menjamur bak cendawan di musim hujan. Orang-orang butuh sesuatu untuk dibanggakan, berbeda dengan orang dahulu, mereka berfoto untuk merekam momen melawan lupa.

Baca Selengkapnya

Ruang Penuh Debu

Ruang Penuh Debu

Hi kamu. Lama sudah tidak aku sentuh, bahkan aku lirik pun jarang. Jika kamu adalah sebuah buku, mungkin saat ini ada banyak sarang laba-laba yang bersatu dengan warna sampulmu. Atau mungkin, asamnya udara membuat pudar warnamu dan menjadi semakin menguning. Entah mengapa, aku tidak lagi suka menulis seperti dulu. Sempat aku kuatkan tekad untuk menulis namun rasanya seperti sia-sia, jemariku tak kunjung berhasrat untuk memberitakan berpatah kata pada laman blog ini.

Aku tidak tahu, apa yang membuatku demikian. Mengasingkanmu. Membuatmu tersudut di pojok ruang sepi yang tiada siapa peduli. Apakah kegalauanku terhadap hidup sudah sedemikian pudar? Tidak juga. Malah aku merasa semakin tidak mengerti dengan diriku sendiri. Aku seperti asing dengan sosok yang bernama Baiquni ini. Aku semakin tidak mengenal aku, mungkin karena aku semakin jauh dari dekapan Tuhan. Bukankah sering terdengar, mereka yang mengenal dirinya adalah yang mengenal Tuhannya. Lantas, mengapa?

Namun, bolehlah aku sedikit membuka satu tabir rahasia. Aku selalu ingin menulis banyak hal lagi. Terkadang, saat aku dalam perjalanan, aku mengingat tentangmu. Aku mencoba memperanakkan kata di dalam kepalaku, mencoba membangun embrio tulisan, lantas menjadikannya janin. Tetapi, sekali lagi, ketika tekad itu telah muncul selalu saja kalah oleh kemalasanku. Beribu kata yang telah terjahit kembali urai menjadi benang-benang basah yang tak mampu ditegakkan.

Baca Selengkapnya

Kehilangan Kata

Melupakan Kata Melupakan Nama

Awalnya aku mendiagnosis bahwa aku mengalami dimensia, sebuah gejala penurunan fungsi otak. Aku mulai melupakan tentang begitu banyak kosakata yang dulu tersimpan, terkadang ketika berbicara aku lupa hendak mengatakan sebuah kata. Aku pun mulai melupakan banyak nama. Seperti harus mengeja ulang nama-nama yang pernah hadir dalam hidupku, nama-nama yang bersinggungan dengan sebagian episode yang telah kujalani.

Pola pikir juga sama. Aku mulai kesulitan untuk mempetakan begitu banyak masalah dalam rentang yang runut. Pikiranku menjadi semakin abstrak. Bahkan hal-hal yang simpel pun aku kesulitan dan tertatih dalam mengejanya. Mungkin ini karma, tentang aku yang cenderung mudah berkata tidak bisa ketika beberapa orang bertanya, karena menjelaskan sesuatu adalah salah satu kesulitanku dari sejak dahulu kala. Keenggananku seolah menjalar, menghukum hidupku, dan menjadikan aku seperti sekarang ini.

Maka ketika sebuah persoalan diajukan, lebih mudah bagiku mencatat segalanya baru kemudian berpikir dari apa yang tertulis. Namun, terkadang hal demikian tidak juga membantu. Satu ketidaksesuaian seringkali membuatku merontokkan seluruh pondasi yang telah aku pikirkan.

Baca Selengkapnya

Incoming search terms:

Mereka Yang Berjuang

Menjadi tenang di tengah kegundahan bukan perkara mudah. Tentang hati yang bergejolak, bergemuruh laksana ombak di tengah badai. Tak ada kapal yang mampu tenang, kecuali doa yang terus dirapalkan untuk seluruh keselamatan perjalanan. Demikian juga hidup. Menjadi tenang di tengah seluruh masalah yang bertubi datang, di seluruh kisruh yang bertubi datang, bukanlah sesuatu yang mudah untuk dicapai.

Beberapa hari yang lalu, aku pun gaduh. Hatiku tak tenang, mengetahui seorang temanku berada dalam seluruh kegalauannya, juga kepasrahan. Beberapa kali aku mendengar tercetus rasa ingin menyerah dari bibirnya. Beberapa kali pula aku tak tahu harus berkomentar apa kepadanya. Namun aku bahagia, tidak surut langkahnya menyerah di tengah kesendirian. Jika aku adalah dia, mungkin telah jauh hari aku berjalan mundur dan menutup seluruh pintu. Melarikan diri dari seluruh kebuntuan.

Aku bahagia. Kehidupan dan waktu telah banyak menempanya menjadi tidak mudah menyerah. Menempanya menjadi sosok yang lebih bijaksana daripada biasanya. Tentang manusia yang terus ingin berjuang, menjadi lebih baik dari hari-ke-hari. Sungguh, aku ingin berada di sampingnya, menjadi mereka yang terus menatap segala anak tangga capaian yang mampu ditapakinya.

Baca Selengkapnya

Sebelum Dunia Tertidur

Aku menutup mata namun dunia masih belum juga hendak beranjak pergi. Orang-orang bising dengan hati dan pikiran mereka. Tentang sumpah dan serapah yang mengalir dari jiwa-jiwa yang kering, yang butuh begitu banyak telaga atau ribuan waduk untuk mengenyangkan dahaga mereka. Namun dunia belum juga tertidur.

Mimpi-mimpi terus dipilin menjadi benang lantas berubah menjadi baju. Mereka pakai bagai zirah. Menutupi demi melindungi, namun sejatinya cuma mengikat, menjerat, mematikan bebas jiwa yang sesungguhnya menari tanpa sayap di langit yang jauh dari angan. Melebihi batas impian.

Baca Selengkapnya