Rambu Jalan

Tipe Kehidupan

Ada dua tipe kehidupan. Pertama, berjalan seperti bidak catur dan kedua, berjalan seperti layaknya air yang mengalir. Mungkin ada tipe lainnya, namun secara garis besar aku menangkap dua tipe ini. Jika ingin lebih terdengar hebat, maka gunakan istilah liberal terhadap tipe pertama dan fatalis untuk tipe kedua.

Aku pribadi cenderung merasa bahwa kehidupan adalah sesuatu yang begitu cair. Ada banyak tangan tak terlihat yang menuntunku. Rasanya, seperti menaiki kereta api, telah ada rel untuk setiap pilihan tujuan.

Bertolak belakang dengan pendapat seorang teman, baginya kehidupan adalah kehendak bebas tanpa campur tangan Tuhan. Manusia adalah penentu dari segala kebijakan. Alasannya logis, karena tidak mungkin Tuhan akan menghukum manusia jika mereka cuma mengikuti takdir yang mendorong. Bukankah Tuhan itu Mahaadil?

Baca Selengkapnya

Menangis

Menangis

Kapan kau terakhir menangis? Ketika malam hendak mengejar fajar, disayup cahaya redup yang mulai menerang. Atau ketika pagi mulai menggigit, memanaskan seluruh tapakmu ketika melangkah telanjang. Atau, bolehkah aku mengubah tanya, “masihkah engkau menangis?

Tidak lagi aku melihat matamu yang basah, kecuali telah menjadi batu. Seperti tandus tanah tanpa hujan bertahun, bertahap menjadi gemuruh pasir. Padahal, aku berharap ada badai di sana, laksana ombak yang tersusun, menggunung dan menggulung.

Aku takut, kau telah melupakan jalan pulang. Telah alpa tentang tujuan kembali. Bahwa kaki yang masih tegak itu seolah tidak akan rubuh dan membaringkanmu tanpa mampu bangkit kembali. Aku takut kau amnesia.

Labirin ini telah menjadikanmu gila. Jutaan reaksi yang pecah dan saling tabrak menjadikanmu tak sadarkan diri. Atau mungkin, tidak cuma gila tetapi kau pun telah buta oleh gelapnya jalan tanpa sandaran jejak yang menuntun. Aku tak tahu, maqam apa yang sedang kau lalui. Atau iblis mana yang sedang ada di sisimu.

Aku seperti melihatmu dari balik punggung. Bahkan ekor mataku tak mampu mengejar kau yang sedang berlari terlalu cepat. Segala tingkahmu tidak lagi mampu aku tafsirkan. Khatam buku mimpi tidak juga mampu membaca tafsiran seluruh apa yang kau perbuat. Lantas, apa maumu?

Tidakkah engkau rindu. Tentang sayup suara yang mengisi kekosongan itu. Cahaya yang memberitakan seluruh jalan. Maka mengapa kau menjadi sedemikian tuli? Mengapa memilih menutup mata? Mengapa jatuh cinta untuk menjadi gila?

Tidakkah ini terlalu melelahkan. Seperti, permainan ini abadi di dalam lingkarannya. Dan kau berputar-putar semacam orang gila. Tidakkah ini memuakkan, terlalu memuakkan, sangat memuakkan. Sampai, aku tak tahu mengapa kau terus memainkannya sambil tertawa terbahak membahana.

Aku merindukan masa lalu. Ketika tangisan kita, seperti gaung yang terpantul, saling sahut-menyahut. Seperti gemuruh yang berdesis, menutupi malam pada heningnya. Tidakkah kau ingin seperti dulu, mega badai yang bergerak tersimpan sempurna cuma di dadamu.

Kesombongan dan Kekanakan

Beberapa waktu yang lalu, aku melihat keponakan-ku begitu ceria. Abi-nya baru pulang dari Medan, membawakan oleh-oleh. Dan yang paling dia suka adalah komputer mini yang akan menyuarakan huruf saat tombol ditekan dan baju-baju baru untuk lebaran nanti. Kebetulan, dua sepupu-ku juga sedang ada di rumah. Keponakan-ku, Khansa, memamerkan seluruh barang barunya itu kepada keduanya. Begitu bahagia. Begitu ceria.

Melihatnya bahagia, penuh bangga memamerkan barang-barang barunya, membuatku berpikir: Apakah kesombongan itu telah ada pada benak manusia sejak dahulu kala? Atau, kesombongan hanyalah bagian dari jiwa kekanak-kanakan manusia yang masih bersisa.

Tidak jarang kita melihat manusia begitu bangga dengan barang-barang barunya atau sesuatu yang dianggapnya wah. Entah itu barang baru, pengetahuan baru, atau mungkin, seorang teman baru. Maka duga-ku, ini alasan kenapa fenomena selfie menjamur bak cendawan di musim hujan. Orang-orang butuh sesuatu untuk dibanggakan, berbeda dengan orang dahulu, mereka berfoto untuk merekam momen melawan lupa.

Baca Selengkapnya

Incoming search terms:

Ruang Penuh Debu

Ruang Penuh Debu

Hi kamu. Lama sudah tidak aku sentuh, bahkan aku lirik pun jarang. Jika kamu adalah sebuah buku, mungkin saat ini ada banyak sarang laba-laba yang bersatu dengan warna sampulmu. Atau mungkin, asamnya udara membuat pudar warnamu dan menjadi semakin menguning. Entah mengapa, aku tidak lagi suka menulis seperti dulu. Sempat aku kuatkan tekad untuk menulis namun rasanya seperti sia-sia, jemariku tak kunjung berhasrat untuk memberitakan berpatah kata pada laman blog ini.

Aku tidak tahu, apa yang membuatku demikian. Mengasingkanmu. Membuatmu tersudut di pojok ruang sepi yang tiada siapa peduli. Apakah kegalauanku terhadap hidup sudah sedemikian pudar? Tidak juga. Malah aku merasa semakin tidak mengerti dengan diriku sendiri. Aku seperti asing dengan sosok yang bernama Baiquni ini. Aku semakin tidak mengenal aku, mungkin karena aku semakin jauh dari dekapan Tuhan. Bukankah sering terdengar, mereka yang mengenal dirinya adalah yang mengenal Tuhannya. Lantas, mengapa?

Namun, bolehlah aku sedikit membuka satu tabir rahasia. Aku selalu ingin menulis banyak hal lagi. Terkadang, saat aku dalam perjalanan, aku mengingat tentangmu. Aku mencoba memperanakkan kata di dalam kepalaku, mencoba membangun embrio tulisan, lantas menjadikannya janin. Tetapi, sekali lagi, ketika tekad itu telah muncul selalu saja kalah oleh kemalasanku. Beribu kata yang telah terjahit kembali urai menjadi benang-benang basah yang tak mampu ditegakkan.

Baca Selengkapnya

Kehilangan Kata

Melupakan Kata Melupakan Nama

Awalnya aku mendiagnosis bahwa aku mengalami dimensia, sebuah gejala penurunan fungsi otak. Aku mulai melupakan tentang begitu banyak kosakata yang dulu tersimpan, terkadang ketika berbicara aku lupa hendak mengatakan sebuah kata. Aku pun mulai melupakan banyak nama. Seperti harus mengeja ulang nama-nama yang pernah hadir dalam hidupku, nama-nama yang bersinggungan dengan sebagian episode yang telah kujalani.

Pola pikir juga sama. Aku mulai kesulitan untuk mempetakan begitu banyak masalah dalam rentang yang runut. Pikiranku menjadi semakin abstrak. Bahkan hal-hal yang simpel pun aku kesulitan dan tertatih dalam mengejanya. Mungkin ini karma, tentang aku yang cenderung mudah berkata tidak bisa ketika beberapa orang bertanya, karena menjelaskan sesuatu adalah salah satu kesulitanku dari sejak dahulu kala. Keenggananku seolah menjalar, menghukum hidupku, dan menjadikan aku seperti sekarang ini.

Maka ketika sebuah persoalan diajukan, lebih mudah bagiku mencatat segalanya baru kemudian berpikir dari apa yang tertulis. Namun, terkadang hal demikian tidak juga membantu. Satu ketidaksesuaian seringkali membuatku merontokkan seluruh pondasi yang telah aku pikirkan.

Baca Selengkapnya