Mereka Yang Berjuang

Menjadi tenang di tengah kegundahan bukan perkara mudah. Tentang hati yang bergejolak, bergemuruh laksana ombak di tengah badai. Tak ada kapal yang mampu tenang, kecuali doa yang terus dirapalkan untuk seluruh keselamatan perjalanan. Demikian juga hidup. Menjadi tenang di tengah seluruh masalah yang bertubi datang, di seluruh kisruh yang bertubi datang, bukanlah sesuatu yang mudah untuk dicapai.

Beberapa hari yang lalu, aku pun gaduh. Hatiku tak tenang, mengetahui seorang temanku berada dalam seluruh kegalauannya, juga kepasrahan. Beberapa kali aku mendengar tercetus rasa ingin menyerah dari bibirnya. Beberapa kali pula aku tak tahu harus berkomentar apa kepadanya. Namun aku bahagia, tidak surut langkahnya menyerah di tengah kesendirian. Jika aku adalah dia, mungkin telah jauh hari aku berjalan mundur dan menutup seluruh pintu. Melarikan diri dari seluruh kebuntuan.

Aku bahagia. Kehidupan dan waktu telah banyak menempanya menjadi tidak mudah menyerah. Menempanya menjadi sosok yang lebih bijaksana daripada biasanya. Tentang manusia yang terus ingin berjuang, menjadi lebih baik dari hari-ke-hari. Sungguh, aku ingin berada di sampingnya, menjadi mereka yang terus menatap segala anak tangga capaian yang mampu ditapakinya.

(lebih…)

Sebelum Dunia Tertidur

Aku menutup mata namun dunia masih belum juga hendak beranjak pergi. Orang-orang bising dengan hati dan pikiran mereka. Tentang sumpah dan serapah yang mengalir dari jiwa-jiwa yang kering, yang butuh begitu banyak telaga atau ribuan waduk untuk mengenyangkan dahaga mereka. Namun dunia belum juga tertidur.

Mimpi-mimpi terus dipilin menjadi benang lantas berubah menjadi baju. Mereka pakai bagai zirah. Menutupi demi melindungi, namun sejatinya cuma mengikat, menjerat, mematikan bebas jiwa yang sesungguhnya menari tanpa sayap di langit yang jauh dari angan. Melebihi batas impian.

(lebih…)

Jam Dinding

Jam Dinding Yang Sekarat

Di rumahku, ada satu jam dinding yang tinggal menunggu waktu untuk “pergi”. Letaknya di atas kulkas yang ada di samping tangga menuju lantai dua, tegak lurus dengan mini bar yang menghubungkan ruang utama — tempat kami menonton tv dan wilayah Khansa (keponakanku .pen) dengan pertempurannya — dan dapur. Jam yang merupakan hadiah pernikahan kakak ketigaku dulu.

Kadang, ketika aku hendak menaiki tangga, jam tua itu seperti memanggilku dengan suara deritnya ketika menunjukkan jam-jam yang genap. Suaranya begitu menderit, bahkan nenekku masih terkesan jauh lebih muda daripada jam tersebut jika menilai dari suaranya saja. Suara derit jam itu ibarat sebuah pepatah lama: “hidup segan, mati tak mau“. Namun herannya, sejak 3 tahun lalu suara deritan itu tetap sama tetapi jam itu tidak juga mati. Sungguh semangat hidup yang patut diacungi jempol!

(lebih…)

Sujud

Menatap Ke Dalam

Mungkin aku adalah manusia paling buruk yang pernah hadir di dunia ini. Tentang langkah yang semakin hari semakin pengkor, tertatih menyusuri seluruh duri dan kerikil yang tersebar. Belum lagi tentang lumpur yang melekat dan menjadi liat, juga lumut yang melicinkan seluruh jalan. Berkali aku tergelincir. Berkali pula aku mengulang seluruh kesalahan oleh langkah yang tergesa. Aku adalah manusia yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin.

Hatta, masih saja aku mengurusi jalan orang lain. Meneriakkan mereka tentang buta yang menutupi. Membisikkan mereka tentang kerikil-kerikil yang menjelma duri.

Aku belum lagi khatam menatap ke dalam, lantas mengapa aku harus membaca yang lain. Seperti engkau membuka beberapa bab sebuah novel lantas mencampakkan dan mencari lembaran baru dari novel yang berbeda. Akhir yang kau cari tak juga ditemukan.

Pertanyaan — tentang siapa aku — terus saja mengalun tanpa henti. Pertanyaan tentang akhir yang dinanti atau tentang tujuan dari semua kisah hidup ini. Sebenarnya, apa yang sedang aku cari?

(lebih…)

Memberontak Kesendirian

Memberontak Kesendirian

Suatu siang, dalam sebuah percakapan, temanku tak percaya saat kukatakan bahwa aku jarang melakukan segala sesuatu dalam kesendirian. Aku tidak berbelanja sendiri, tidak ngopi sendiri, tidak ke dokter sendiri, apapun itu — aku tidak sendiri.

Dia tidak percaya. Dia selalu merasa bahwa aku adalah sosok seorang introvert — mereka yang nyaman dalam kesendirian, pemalu, dan berpikir sebelum berbicara. Maka ketika aku engan melakukan segala sesuatu tanpa seorang teman, segala sosokku dalam benaknya serasa dijungkar-balikkan.

Kemudian selanjutnya aku bertanya, mengapa dia bisa begitu mudah melakukan segala hal dalam kesendirian? Seperti berjalan sendiri tanpa ada yang menemani, berbelanja sendiri, menonton sendiri, menikmati secangkir kopi sendiri dalam hiruk manusia yang tidak alpa berbicara. Dan seperti yang aku tebak, dia pun tidak mengerti mengapa dia bisa melakukannya. Hanya sebuah alasan bahwa, “ya bisa saja, kenapa tidak.” — hanya itu.

Maka kemarin, aku mulai mencoba berontak. Mencoba menguji apakah aku mampu tegas dalam kesendirian. Akupun mencoba berjalan sendiri mengelilingi separuh kota saat subuh berganti pagi. Duduk di sebuah warung kopi ketika orang-orang bahkan belum lagi beranjak dari pintu rumahnya untuk pergi.

(lebih…)

Incoming search terms: