Kami berdua berjalan diantara pepasir pantai. Aku dan dia, sahabatku. Terkadang kami berjalan bersama diantara riak awan atau menyelam jauh ke dasar samudera. Kami melakukan itu hanya untuk satu hal, berkata dan berbicara.
Sore itu, langit cerah. Sore pantai tak ada panas, hembusan angin sepoi-sepoi mengibarkan ujung-ujung baju kami berdua. Diantara riak ombak kami berjalan bersama, tak memakai alas kaki, begitu terasa di kulit-kulit saraf bagaimana deburan ombak menggelitik.
“Bagaimana?” Dia membuka pembicaraan.
“Apanya yang bagaimana?” Tanyaku tak mengerti.
Melihat reaksiku, dia hanya terkekeh. “Bagaimana dengan si dia, seseorang yang ada di sini.” Ucapkan sembari menepuk dadaku.
Ahh, akhirnya aku mengerti arah pembicaraannya. “Entahlah.” Jawabku datar.
“Siapa namanya? Biasanya kamu menyebutnya dengan sebutan khas.”
“Hah?” Aku setengah terkejut, pecah dalam lamunan. “Taman Surga, namanya Taman Surga.”
Baca Selengkapnya