Ta’aruf Gagal
cerita hati, discussion, my days November 25th, 2008Akhir-akhir ini aku kurang begitu perhatian dengan handphoneku. Terlalu banyak orang iseng, entah cuma sekedar misscall, atau sms yang enggak penting. Parahnya, ada beberapa yang misscall aku begitu aku hubungi kembali dia malah diam, tak bersuara dan beberapa lama kemudian mematikan teleponnya.
Kesel. Pasti!
Beberapa waktu yang lalu aku cek handphoneku. Ternyata ada sms dari Anda, kakakku.
Sedih juga. Anda mengabarkan kalau session ta’arufnya gagal. Ada ketidak-cocokan, sehingga diputuskan lebih baik tetap menjalin silaturrahmi sebagai seorang teman dengan pria yang ta’aruf dengannya.
Sedih, itu pasti. Anda sekarang sudah menginjak umur 30 tahun, namun belum juga berkeluarga. Namun, bagiku menikah sekarang dengan keputusan terburu adalah hal yang harus dihindarkan. Aku menghargai keputusan Anda untuk membatalkan ta’arufnya, itu lebih indah daripada memulai karena suatu yang diburukan tanpa mempertimpangkan secara matang.
Mungkin Allah sedang ingin berbicara lain kepada Anda. Aku masih memegang janji Allah, “lelaki yang baik untuk wanita yang baik, dan wanita yang baik untuk lelaki yang baik.”
Allah tidak akan pernah berbohong. Aku percaya 100%.
Diantara kakakku yang lain, Anda adalah kakakku yang paling lembut, sabar, telaten walau agak tertutup dan terlihat lemah. Namun Anda keras kepala dibalik kelemahannya itu. Jika sudah memutuskan A maka itulah yang akan diambilnya.
Aku tahu Anda pasti sedih dengan keputusannya ini, terlebih mengingat usianya yang sudah berumur. Namun keputusannya amat sangat kuhargai, dan aku akan selalu berdoa kepada Allah agar memberi jodoh yang terbaik untuknya.
Bagi Anda pribadi, tidak masalah sosok pria yang ingin menikahinya asalkan hanif. Tetapi terkadang ada begitu kuat keinginanku agar jodoh Anda nanti adalah lelaki dari kalangan Tarbiyah. Lelaki yang benar-benar ikhwan, bukan sembarang ikhwan, paling tidak mirip-miriplah kepribadiannya dengan Hidayat Nur Wahid.
Semoga saja Anda mampu mengambil hikmah dari semuanya ini. Toh, kejadian ini, bahkan apa yang kutuliskan ini telah tertulis sedari awal di Lauh Mahfuz. Sudah menjadi ketetapan takdir.
Anda, tegar ya. Mungkin kesedihan Anda saat ini pasti akan terbayar dengan senyuman dikemudian hari, ketika Anda telah menemukan suami yang cocok dengan Anda, baik agamanya, keimanannya, dan mampu membawa Anda, Beni, dan keluarga kita menuju surga.
“Kecuali orang-orang yang sabar, dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S. Hud : 11)
Sungguh, pada tiap-tiap sabar itu ada keindahan…

pada waktu 25 November 2008 jam 5:38 am
Sungguh,,,,cinta hakiki kita dapatkan ketika kita telah mengenal zat dari segala cinta,,,yaitu CInta ILahi,,,,,teruslah menggapai cinta-Nya ben,,,,,,,dan aku juga yakin “lelaki yang baik adalah untuk wanita yang baik n wanita yang baex untuk lelaki yang baex pula…..”
pada waktu 25 November 2008 jam 6:46 am
Salam Baiquni,
Saya turut bersedih dengan kegagalan ta’aruf kakak Baiquni. Jangan putus asa, coba saja lagi. Mungkin kakak anda ikut halaqah ya? Jadinya Baiquni ingin jodoh kakak anda dari golongan halaqah juga. Jangan khawatir, laki-laki baik di luar halaqah juga banyak. Lagipula belum tentu awal yang baik pada saat pernikahan berujung kepada akhir yang baik juga. Ada juga yang menikah dengan pasangan yang kelihatannya sangat ideal karena alim dan aktif di halaqah berujung di perceaian juga.
Saya sarankan agar orang-tua Baiquni juga aktif mencarikan jodoh untuk kakak anda. Entah itu melalui kenalan mereka atau saudara-saudara mereka. Saya punya dua adik perempuan. Kedua-duanya mendapat jodoh saudara jauh karena dicarikan orang-tua.
Wassalam
pada waktu 25 November 2008 jam 8:02 am
Aku termasuk golongan lelaki yang baik-baik itu ga ya? Hahhhh…masih jauh deh kayaknya.
pada waktu 25 November 2008 jam 10:10 am
Tenang aja ben, kakakmu pasti ada jodohnya. Kambing aja ada jodohnya, masak….
Just kidding
pada waktu 25 November 2008 jam 2:42 pm
Coba lagi ben! masih ada kesempatan yang lain.
pada waktu 25 November 2008 jam 7:57 pm
“Mau berapa kali ta’aruf, kalau memang dah itu jodoh tuk kk Beni, ya itulah yang terbaik dari Allah untuk dia. Jadi jangan putus harapan”
“Kita saja ga tau siapa, dimana n bagaimana jodoh kita. Tapi, tetap berdoa dan usaha dibarengi tawakkal demi mencapai itu. Apa pun itu, kan?”
“Semangat tuk K’Anda!”
“Ga mesti yang nampak yang didapatkan. ada jodoh istimewa tersembunyi yang mungkin bentar lagi kk jumpai”
“Allahuakbar!!!”
Salam tuk K’Anda, ya..
pada waktu 3 January 2009 jam 11:03 am
baca kisah ini, jadi keinget diriku sendiri.
trimakasih sudah menuliskannya. semoga ada yg tebaik buat kakak dan mas sendiri.amiin
pada waktu 1 February 2009 jam 10:27 am
anda baru baca nie, thanx adek q tersayang atas perhatian mu
emang iya ta’aruf berakhir karena dia (not me my brother) yg memutuskan, itu artinya walo dia baik namun bukan dia yg terbaik untuk q & hal itu jg membuat anda tersentak mungkin diri ini blm benar2 baik, diri ini harus berbenah memperbaiki diri.
mungkin karena g aktifin hp jadi na waktu baca g konsen kali ya
yg jelas jgn berputus asa dari rahmatNYA, dengan asa manusia akan tetap hidup.
Cinta akan selalu ada namun hadirnya tiada terduga, seperti dirimu adik q sayang yg sedang mencari bidadari
pada waktu 23 March 2009 jam 12:26 pm
kadang sya ngras, cuuma masalah jodoh yang bikin puyeng
kalo karier, pendidikan, silaturahmi its easy
tapi jodoh tu gampang-gampang susah dan kadang susah lah malah jadi gampang,
cuma satu yang jadi keyakinan, thats Allah sangat mencintai saya
dan saya pasti diberikan yang terbaik menurutNya
pada waktu 5 January 2010 jam 3:13 am
Sesungguhnya ALLAH itu maha adil, jika memang kita tidak diberikan jodoh di dunia maka percayalah bahwa Bidadari/Bidadara disyurga itu selalu melihatmu dan berdo’a dengan do’a yang jika engkau mendengarnya akan membuat mu begitu cemburu kepadanya.
Terkadang kita hanya memikirkan hal yang baik buat yang baik tapi kita lupa tujuan dari penciptaan kita sendiri. Sesungguhnya istri para Shahabat dan Tabiin pun melewati fase dimana mereka merasa belum mendapatkan yang sesuai dengan mereka (contoh: dia berpikir sang suami terlalu asik dengan kitab-kitab yang dikarangnya dan jarang memerhatikannya).
Jadi inti dari pernikahan itu memang uhasa maksimal kita memperbaiki diri, menerima kelemahan pasangan, dan menegakkan kewajiban tanpa menuntut hak kita pada pasangan kita.
Jadilah “sauri teladan” yang baik bagi seluruh keluargamu kelak.