Selaksa Hampa
cerita hati, puisi jiwa, sampah hati January 12th, 2008Selaksa hampa!
Berjuta perasaan yang ada di dalam hati, semuanya hanya satu; jenuh. Dan jenuh itu akan terus ada, serasa abadi. Begitu absolut. TAK TERGUGAT!
Tak pernah aku membagi perasaan ini, tak pernah kecuali pada seseorang. Saat jenuh ini mencapai titik akumulasi, aku menghubunginya. Seseorang nan jauh ada di sana, di pulau Jawa, di Malang. Kepadanya aku membagi perasaan ini, namun aku tak pernah ingin jujur. Aku hanya jenuh teman.
Apakah kamu mengerti apa yang disebut dengan sepi?
Apakah kamu paham apa yang dimaknai dengan kehampaan?
Apakah kamu pernah mengeja arti tiap kesunyian?
Sunguh-sungguh-sungguh-sungguh-sungguh… rasa itu amat mendalam. Rasa yang berasal dari kekosongan jiwa.
Kekosongan yang amat pekat, bahkan kepada seseorang yang selama ini kuanggap kucintai pun tak pernah aku membaginya, karena aku yakin hasilnya sama saja. Dia tidak akan pernah memperdulikanku.
Teman, aku sama sepertimu. Aku bagian dari kesepian.
Selamat datang di dunia sunyi. Dunia yang hingar-bingar namun kau tetap merasa sendiri. Selamat datang!
Teman, apa yang kau rasakan adalah telah lebih dahulu aku rasakan.
Teman, bahkan yang kuceritakan kepadamu bukanlah apa-apa dibalik rahasia betapa sepinya diriku ini. Amat sangat menekan rasa itu, namun amat sangat longgar. Seperti kau memeluk belikat dari tangan berlawananmu, membuat rusuk saling beradu, menyesakkan hingga tak ada nafas yang menghembus dari paru. Teramat menyiksa.
Teman, apakah engkau mengerti itu? Apakah engkau memahami?
Senyumku, tawaku, tak akan berarti apa-apa. Dalamku masih tetap seperti dulu, sepi yang menumpuk, jenuh yang mensemesta. Selaksa hampa.
Teman, pernahkah engkau merasakan seperti ada gumpalan menyesakkan di dalam hatimu? Kumpalan itu tak membesar juga tak mengecil, hanya semakin menekan. Bahkan dia tak hilang ditelan masa. MEMBUSUK!
Selaksa hampa…
Seperti jatuh dalam jurang yang tak mendasar. Jurang hitam yang begitu pekat. Jurang yang memiliki tekanan tak terbatas. Jurang yang amat sangat tak engkau mengerti. Aku menamakannya jurang kehampaan.
Selaksa hampa… demikian adanya.

pada waktu 17 January 2008 jam 2:48 am
Jujur saja biar plong
pada waktu 17 January 2008 jam 4:17 pm
ikutan bikin puisi yah….
)
.:: cinta itu buta (kata orang!!) cinta bias bagaikan air kadang cinta itu bagai bayangan martapogana di tengah padang pasir ketika di kejar semakin menghilang cinta itu, kadang cinta itu datang dengan sendirinya, semakin terlena semakin semakin besar kita kekurangan cinta itu,namun apalah arti cinta di tengah martapogana,…kadang…cinta bagaikan kupu-kupu semakin kita kejar dia akan menjauh.. ::. sabar yah
pada waktu 20 January 2008 jam 3:56 pm
“cinta bagaikan kupu-kupu semakin kita kejar dia akan menjauh”
Bukannya bagaikan “jinak-jinak merpati”
pada waktu 10 February 2008 jam 8:12 pm
cinta itu bukan bukan makanan yang dikunyah langsung dirasakan nikmatnya. tapi cinta itu semakin dalam kau tancapkan cintamu pada seseorang maka akan semakin sakit perasaan yang akan kau alami. contohnya saja kahlil gibran yang mati tanpa merangkul cinta dipelukannya.
jadikankan kehampaanmu cinta bagi dunia utopismi maka cinta akan hadir dalam dunia nyatamu.