Sepi yang Menghujam

Aku sepi menjalar sumsum. Ingin bersamamu hingga akhir zaman. Aku tak kuasa untuk temukan jasad. Maaf, karena cuma sebegini aku mampu cinta. Kesepianmu adalah kesepianku juga. Kekalutanmu adalah kekalutanku juga. Demikianlah. Bukankah Tuhan pernah berkata, jika Aku telah cinta maka Aku akan menjadi matamu, Aku akan menjadi kakimu, Aku akan menjadi tanganmu. Sayangnya, aku tak … Continue reading Sepi yang Menghujam

Meradang Sepi

Meradang Sepi, gigilku mengguncang bumi langitpun patah-patah “Mengapa kesepian bisa sedemikian hebat?” dan Tuhanpun terbahak lampion-lampion telah kumatikan semua tak pernah ada yang tahu ssttt… aku meringkuk sendiri pojok sudut ruang dingin pengap dan lembab jangan ada yang tahu: aku sedang meradang sepi Cinta bergelut memaksaku memayapada namun aku berontak “biarkan aku sendiri!” menikmati keindahan … Continue reading Meradang Sepi

Gelisah

Pulang dari kampus tadi, sekitar jam 14.00 WIB. Entah mengapa hatiku deg-degan. Gelisah. Aku sendiri tidak paham, dari mana datangnya gelisah mengapa dia harus sampai hadir. Aku cuma tahu, debar jantungku tidak enak. Terasa sekali tanganku gemetar dan mendingin. Segala hal menjadi tidak enak. Duduk tidak nyaman, tidur pun tidak menyenangkan. Kepala ini pusing sekali. … Continue reading Gelisah

Cinta Butuh Dewasa

Jikalau ku mengenang jejak, ada satu pelajaran berharga yang kudapat: Cinta Butuh Dewasa. Dulu, aku pertama mengenal cinta yang dapat kupahami secara kasat. Aku mampu memberikan cinta, aku mampu menelepon cinta, aku mampu tertawa bersama cinta. Hingga prahara datang, membordirku dalam bentuk yang tidak lagi kupahami. Sadar. Cinta telah hilang. Pernah kutanyakan pada cinta, “apakah … Continue reading Cinta Butuh Dewasa

Ta'aruf

Tadi aku baru bercerita tentang seseorang kepada kakakku. “Nda, menurut Anda jika seorang wanita pulang malam-malam jam 10.30 dengan seorang lelaki kira-kira apa pandangan Anda?” tanyaku. Anda itu emang nama panggilan kakakku, aslinya bernama Nurbariah. Dia kakak kedua ku. Kami semua berempat; kak Iti (Nurfitriani), Anda (Nurbariah), kak Iir (Irhami), dan aku (Muhammad Baiquni). “Ga … Continue reading Ta'aruf

Sudahlah Pria, Tak Perlu Menangis Hanya Karena Cinta

Sudahlah pria, tak perlu menangis hanya karena cinta… Tiba-tiba saja pria di sampingku bertutur demikian. Yah, aku memang sedang menangis. Menangisi diriku sendiri, menangisi cintaku. Rasanya telah terlalu lama aku bersabar, terlalu lama. Rasanya tak ada lagi yang ingin aku simpan untuk hanya menjadi beban, rasanya ingin ku ungkap semua rasa. Ingin ku ungkap semua … Continue reading Sudahlah Pria, Tak Perlu Menangis Hanya Karena Cinta