Aku Bukan Pengecut

sekarang aku malah bingung malu menyebut nama setelah lahir cinta takut-takut nama akan menjadi belati menghunusku dalam… ahh, cerita sang pengecut kembali terukir haruskah seperti itu? pengecut ditandai dengan katakan tidaknya cinta haruskah seperti itu? pengecut adalah mereka-mereka yang tidak punya malu lantas kemana sabda nabi, saat dia berkeras kata: “jika sudah tidak punya malu, … Continue reading Aku Bukan Pengecut

Jalan Tuhan Cuma Satu

Engkau gugur hancur menjadi cabang dari awal kokoh menjadi seperti kapur rapuh, hilang memutih ditelan air waktu mengkeruhmu Masih ingat awangku tentangmu saat sayapmu masih dua ketika kau mampu terbang ke nirwana tidak tinggal setengah begini jatuh menggelepar, lumpuh, kakimu piyu napasmu cuma tinggal satu Apa kakimu sekarang terpaku namun mereka tidak menyayat lidahmu dan … Continue reading Jalan Tuhan Cuma Satu

Rontokkan Saja Langit

RONTOKKAN SAJA LANGIT! Tiba-tiba saja lelaki itu berteriak demikian. Keras, tegas, menggetarkan. Teriakan yang bukan hanya dari kerongkongan atau suara yang menyapu laring-laring. Itu teriakan hati, sebuah pemberontakan jati diri. JIKA DIA MENJADI PENYEKAT ANTARA AKU DAN TUHAN, LEBIH BAIK LANGIT ITU RUNTUH. Tersigap, aku mulai menepuk pundaknya. “Mengapa kau menghujat langit wahai lelaki?” Lelaki … Continue reading Rontokkan Saja Langit

Eksistensi Tentang "dia"

Tak perlu berbicara dengan puisi, aku cuma ingin curhat! Huff, rasa gundah ini begitu menggunung bahkan aku semakin tidak mengerti tentang aku. Kali ini aku ingin membicarakan sosok lain selain puteri. Memang aku selalu menyembunyikannya, namun jenuh dengan semua rasa yang tergolak oleh sang puteri membuatku mencari sesuatu diluar dia. Dia sama seperti sang puteri, … Continue reading Eksistensi Tentang "dia"