Derita Setengah Hujan

Dalam keadaan apa menurutmu sesuatu itu paling menderita? Aku kata, dalam keadaan setengah. Tidak memuncak, tidak juga membumi. Pertengahan diantara keduanya. Itulah hal yang paling sangat membuatmu derita. Jikalah kita ambil misal tentang cinta. Yang paling berbahagia itu adalah ketika kedua telapak bertepuk tangan. Anggaplah dia itu satu. Dan setengah adalah ketika telapak cintamu cuma […]

Jerawat!!!

Stt… jangan bilang siapa-siapa yah kalau mukaku mulai terkena epidemi jerawat yang super gawat. Bayangin aja, jerawatnya itu besar-besar sebesar bisul! Stt… jangan keras-keras, pelan-pelan aja ngomongnya. Padahal aku sudah mempraktikkan cara mandi yang baik dan benar. Pertama, cuci rambut dulu, kedua baru mandi pakai sabun, ketiga gosok gigi, dan terakhir membersihkan muka. Aih, kenapa […]

Jadilah Bumi

Ada berapa ribu gempa yang terjadi setiap hari di bumi? Badai yang memporak-porandakan. Laut yang menelan. Namun bumi ini tidak pernah sedetik pun berhenti berputar. Aku seharusnya menjadi bumi. Tidak terhenti ketika begitu banyak masalah menghantam bertubi. Terlebih, jika itu soal cinta. Kesepakatan. Aku belajar banyak dari kawanku bahwa kesepakatan tidak berarti apapun! Si nomor […]

Sekufu

Sekufu. Dulu aku mengira bahwa sekufu itu adalah persepsi dari tingkatan iman, sehingga suatu hari aku diingatkan: “siapa yang mampu menilai tingkatan iman seseorang kecuali Allah?” Aku merenung. Dia benar. Salah satu yang terbaik dalam mencari pasangan nikah adalah sekufu. Sekufu yang berarti bersederajat. Jika seseorang itu dari seorang bangsawan, alangkah lebih baik jika pasangannya […]

Aku Mencintai dengan Sederhana

Aku Ingin Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada (Sapardi Djoko Damono) Andai engkau tahu, telah lama aku memendam rasa. Tak perlu ada ucap untuk engkau tahu betapa […]

El, Aku Rindu

Peluhku belum lagi kering, tanah masih membara, dipandu terik mentari menyengat. Tanah ini tidak berpasir, namun retak seperti merekah sepenggal. Warnanya kuning, keruh. Aku berjalan, langkahku gontai. Seperti telah habis tenaga, napasku cuma tinggal satu-satu. Bahkan untuk menghirup dan membuang napas, aku seperti kehilangan tenaga. Terik mentari membuatku sangat lelah. Namun rindu lebih membuatku kebingungan. […]