Selagi Masih Sempat

Kebanyakan dari kita, mungkin selalu terlambat untuk mengungkapkan rasa sayang kepada orang tua kita. Mungkin, hanya ada tetes air mata kerinduan setelah mereka pergi, namun saat mereka masih bersama-sama kita, saling tertawa atau berbagi rasa, kita seperti melupakan kehadiran mereka. Dan setelah masa keberpisahan itu tiba, baru kita sadar, betapa kita mencintai mereka.

Berpikir Dengan Sudut Pandang Berbeda

Datul… Aku pernah menulis dia dalam beberapa episode kehidupanku. Menuliskan betapa aku mencintainya hingga detik ini. Terkadang aku mengerti, terlalu memperhatikan dan terlalu mengacuhkan bisa menjadi petaka dan prahara. Aku salah. Terkadang aku berpikir, apakah ada pria lain yang mampu sepertiku? Memandangnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Menatapnya kapan dia sakit dan kapan dia … Continue reading Berpikir Dengan Sudut Pandang Berbeda

Belajar Melupakan

Ijinkan aku belajar melupakanmu. Aku yakin, kau pasti menginginkan aku mempelajari itu. Namun aku ragu, benarkah tidak ada setitik cinta pun di hatimu terhadapku. Setelah semua kenangan yang kita ciptakan. Setelah semua memoriku terisi oleh namamu. Maafkan aku jika membuatmu tersakiti. Katakan saja jika memang iya, karena aku bukan orang yang mampu mengerti letak dimana … Continue reading Belajar Melupakan

Episode: Lelaki Kalah Perang

Lelaki itu menatapku lekat. Ada kehampaan dari matanya, kehampaan yang terlahir dari jiwa-jiwa letih yang penuh pengharapan namun harus tersungkur oleh kekalahan. Lelaki yang kalah oleh cinta. “Ben, abang ga bisa melupakannya,” lelaki itu membuka suara. Seperti yang sudah-sudah, selalu tentang dia. Tentang wanita yang dimataku bukanlah apa-apa, wanita yang tak akan mampu menyandang predikat … Continue reading Episode: Lelaki Kalah Perang