Namaku Kathmandu

Aku juga menyimpan segenggam pasir dari tanah yang pernah disinggahi oleh nabiku. Pasir itu kumasukkan ke dalam sebuah kantung yang kukalungkan dileherku. Sesekali jika cintaku telah begitu melangit maka aku berdiam sejenak, kutundukkan kepalaku ke tanah lantas kantung pasir itu kuciumi. Aku seperti sedang menciumi kaki nabiku.

Cinta Butuh Memahami

Cinta butuh memahami? Pasti! Entah mengapa rasanya aku ingin menulis tentang cerita ini. Bahwa, cinta terkadang berjalan cuma satu arah. Betapa pun kita mencintai seseorang dengan secinta-cintanya, namun kadang orang yang kita cintai tiada mampu membalasnya, bahkan merasa risih. Betapa pun orang tua kita mencintai kita, terkadang kita membalasnya dengan sekedar. Bahkan tidak jarang kita […]

El, Aku Rindu

Peluhku belum lagi kering, tanah masih membara, dipandu terik mentari menyengat. Tanah ini tidak berpasir, namun retak seperti merekah sepenggal. Warnanya kuning, keruh. Aku berjalan, langkahku gontai. Seperti telah habis tenaga, napasku cuma tinggal satu-satu. Bahkan untuk menghirup dan membuang napas, aku seperti kehilangan tenaga. Terik mentari membuatku sangat lelah. Namun rindu lebih membuatku kebingungan. […]

Alhamdulillah, Wendri Mau Nikah

Beberapa hari yang lalu aku chatting dengan Wendri. Duh, senangnya. Sudah lama tidak chat dengan Wendri, temanku. Ternyata lama tidak chat, Wendri memberikan kejutan: DIA MAU NIKAH!!! Berikut ini petikan chat kami: Wendri: Baiquni: assalamu’alaikum wen Wendri: wa’alaikumsalam ben…. Baiquni: apa kabar wen Incoming search terms:Kunikahi ibu temankuml dengan akhwatakhwat mlml dg istri teman lamaibu […]