Siapa Dia?

Basi! Sia-sia! Entah langit, entah bumi, yang walau memiliki semua cerita dari awal mula ada namun tidak juga memberiku jawab. Aku kadang teramat bingung: bumi kenapa bisu, dan langit mengapa hadir tanpa suara. Alangkah elok jika mereka juga mampu berbicara, saat ada anak manusia gusar ingin bertanya maka bolehlah barang satu dari mereka yang mencoba rumuskan sebuah jawabannya.

Puisi Cahaya

Sudah lama tidak menulis puisi. Kalau seseorang yang suka puisi itu jarang membaca dan menuliskan puisi, maka ruh kata-katanya akan hilang atau sering manusia bumi katakan akan tumpul. Jika engkau menyukai puisi, jangan berhenti dengan cuma menikmati atau membaca puisi. Tuliskan setiap puisimu, tentang napas yang berganti yang menemani hidupmu, tentang setubuh antara engkau dan … Continue reading Puisi Cahaya

Namaku Kathmandu

Aku juga menyimpan segenggam pasir dari tanah yang pernah disinggahi oleh nabiku. Pasir itu kumasukkan ke dalam sebuah kantung yang kukalungkan dileherku. Sesekali jika cintaku telah begitu melangit maka aku berdiam sejenak, kutundukkan kepalaku ke tanah lantas kantung pasir itu kuciumi. Aku seperti sedang menciumi kaki nabiku.

Nama Tuhan Yang Ke 100 Part 1

Suatu hari, Tuhan pernah bercerita tentang namanya yang ke-100. Aku juga seperti kalian ketika itu, heran. Bukankah nama Tuhan cuma ada 99? Tanyaku ketika itu. Tuhan tersenyum, benar kata-Nya. Nama Tuhan memang ada 99, cuma ada satu nama rahasia yang tidak diungkapkannya dan dikhususkan bagi mereka yang mencintainya. Nama Tuhan yang ke seratus. Rasa penasaranku … Continue reading Nama Tuhan Yang Ke 100 Part 1

El, Aku Rindu

Peluhku belum lagi kering, tanah masih membara, dipandu terik mentari menyengat. Tanah ini tidak berpasir, namun retak seperti merekah sepenggal. Warnanya kuning, keruh. Aku berjalan, langkahku gontai. Seperti telah habis tenaga, napasku cuma tinggal satu-satu. Bahkan untuk menghirup dan membuang napas, aku seperti kehilangan tenaga. Terik mentari membuatku sangat lelah. Namun rindu lebih membuatku kebingungan. … Continue reading El, Aku Rindu

Wanita dan Tangisan

Wanita itu datang kepadaku dengan muka memar biru. Wajahnya lebam-lebam, dapat kulihat dia begitu tersiksa. Air matanya meleleh, seolah melolong teriak minta tolong. Tangannya menutup wajah, suaranya goyah, air mata jatuh disela-sela jemari halusnya. Kasihan. Terisak, dia menangis sedu-sedan. Jika manusia melihatnya, tak ada seorangpun yang tak akan iba. Wanita, mengapa selalu tersakiti? “Lho, kamu … Continue reading Wanita dan Tangisan