Kripik Ungu

Semalam, aku berhenti di Sare setelah perjalanan panjang dari Lhokseumawe menuju Banda Aceh.

Jam satu pagi, mamak turun dari mobil Avanza kami. Saat itu sedang hujan lebat, teramat lebat. Mamak turun untuk membeli kripik yang khas yang sering dijual di Sare. Aku hanya melihat, aku menunggu.

Kripik ungu…

Entah mengapa aku teringat dengan kripik ungu. Bagiku itu tidak cuma kripik yang paling kusuka, namun kripik itu mengandung kisah bagiku.

Syahdan, dulu aku pernah ada seseorang yang memberikan kripik ungu padaku, seseorang wanita yang pada saat itu begitu kucintai, seseorang yang sampai saat ini masih sering kupikirkan, walau saat ini mungkin aku telah mampu menyukai seseorang yang lain namun namanya masih tetap ada dihati.

Wanita itu surga.

Dalam mobil, dibalik kabut gunung yang dingin, dibalik embun-embun yang mengembosi kaca mobil, aku merenung. Renunganku tentang dia. Renunganku mengapa dia mampu meninggalkan aku sedangkan aku tidak. Renunganku: apa salahku?

Terkadang, cinta memang bisa membuat gila.

Kripik ungu, selalu membuatku merenung: Adakah seseorang lain yang akan melakukan sama, memberikan kripik ungu padaku sebagai tanda cinta.

Aku menunggu…


Tags:

Ada 17 komentar di “Kripik Ungu”

  1. ijal 2 February 2009 at 11:37 am #

    pasti datul kan..

    “Setiap hati hanya bisa kembali pasrah dalam aliran cinta yang mengalir entah ke mana. Seperti perahu kertas yang dihanyutkan di parit, di empang, di kali, di sungai, tapi selalu bermuara di tempat yang sama. Meski kadang pahit, sakit, dan meragu, tapi hati sesungguhnya selalu tahu…”

  2. ridha 2 February 2009 at 12:36 pm #

    ridha nyimak aja..

  3. liza 2 February 2009 at 1:33 pm #

    si ijal always dengan perahu kertas itu,.. (bangga udah promosiin novelnya dee “Perahu kertas”)…. beni, apa hubungannya coba keripik ungu dengan gadis itu,..hihi mengerikan banget.. (keyword liza : mengerikan),..

    “Kripik ungu, selalu membuatku merenung: Adakah seseorang lain yang akan melakukan sama, memberikan kripik ungu padaku sebagai tanda cinta.” ADA BEN, IBU2 YANG JUALAN KERIPIK UNGU DI SAREE,..mereka pasti memberikannya (lebih tepat menjual) ke beni dengna penuh tanda cinta,..tapi bukan untuk beni, melainkan untuk keluarganya tercinta (uang dari hasil penjualan keripik itu)

  4. Fadli Idris 3 February 2009 at 1:34 pm #

    Omak beni, kayaknya masih ada yang mau kasih keripik ungu sama beni selama masih ada uang, datang aja ke saree, pasti cewek2 yg jualan keripik ungu akan dengan senang hati memberikannya sama beben.

    Memang beni kisah keripik ungu kamu begitu indah, memiliki filsafah mutualisme yang sangat tinggi, keuntungan yang didapatkan oleh sipemberi dan sipenerima keripik ungu yaitu keuntungan cinta diangan-angan, dibalik itu juga memberi keuntungan bagi sipenjual keripik ungu. Semakin besar mahligai cinta mu, maka semakin besar keuntungan bagi sipenjual keripik ungu.

    Sistim ekonomi berbasis cinta, bagaimana kalau kita namaai “Hukum Cinta Beni”, semoga dengan hukum ini krisis ekonomi global bisa terpecahkan.

    kaburrr

  5. Muhammad Baiquni 3 February 2009 at 1:41 pm #

    liza dan Fadli Idris sama-sama ndak nyambung… huh

    Capee deh

  6. ijal 3 February 2009 at 7:05 pm #

    iya za..soalnya kalimatnya itu ngena banget..

    kok mengerikan??coba tanya ma beni kek mana cerita aslinya..ga mengerikan kok..yang ada juga lucu banget wakakaka..

    kadang kita suka ga sadar padahal banyak orang2 di sekitar kita (keluarga, teman/sahabat) yang memberikan tanda cinta nya pada kita dengan berbagai macam bentuk. misalnya dengan mengatakan ‘beni ganteng banget sih’ <– fitnah ni, padahal beni jelek hahaha..

  7. Fadli Idris 4 February 2009 at 1:21 am #

    Kalau gak nyambung ya disambungkan lah beni. Itu khan masih menyangkut keripik ungu dan cinta beni, masak gaknyambung sih, atau beni dah kenak penyakit gila no 38 yaitu gak bisa membedakan lagi?

  8. liza 4 February 2009 at 2:28 pm #

    iya,.nyambung bgt lho “beni ganteng”(seneng sekarang), beninya yang kurang bisa membedakan mana yang nyambung mana yang ngga

  9. Muhammad Baiquni 4 February 2009 at 6:59 pm #

    Dasar pemaksaan kehendak… huh!

  10. Fadli Idris 4 February 2009 at 11:37 pm #

    Terima aja kenyataan nyan Beni, walau kenyataannya pahit. Liza juga mengatakan hal yang sama dengan saya, jangan menilai diri sendiri, biarkan orang lain yang menilainya.

    Tabahkan hati mu Beni….

Tinggalkan komentar donk

 

Switch to our mobile site


91 queries in 1.144 seconds.