Archive | puisi jiwa RSS feed for this section

LAWAN !!!

Berjuanglah untuk makananmu Wahai anak-anak negeri Jangan takut mereka menjarah Genggam tangan sesamamu Hantam mereka dari berbagai arah Mereka yang berkata adil Sudah cukup kita dengar ocehan Sudah cukup kita membuka telinga untuk kebohongan Saatnya tangan berbicara Agar mereka mengerti Arti rasa lapar, tertinggal, dan ditindas Berteriaklah selantang yang engkau mampu Sergap mereka dari berbagai [...]

Baiquni bacain donkAda 4 komentar

Lelaki Majemuk

Engkau tidak asing, tidak juga sendiri lelaki majemuk. Bahasamu masih sempurna, tutur katamu masih seperti dulu ketika lantang suara membuka mata waktu azan pertamaku Engkau masih tersenyum, tidak pernah kaku hanya kulitmu mulai memudar dan peyot punggungmu kentara Seperti dulu, sebelum matahari muncul kau telah pergi dan akan kembali ketika matahari benar-benar mati untukku, dan [...]

Baiquni bacain donkKomentar cuma ada 1

Jika Senyum Telah Mati

Jika senyum telah mati engkau bagaimana? saat warna gigi tak lagi putih juga tak menguning cuma ada sapuan merah bibir sunggingmu terkubur Dulu bahkan aku bisa melihat jelas di retinaku warna lidahmu kau mengakak keras, bahkan langit pecah namun sekarang cuma ada diam bahkan lebih membisu dari tembok-tembok berlumut Aku harus bagaimana pesan telah terkirim [...]

Baiquni bacain donkAda 2 komentar

Jalan Tuhan Cuma Satu

Engkau gugur hancur menjadi cabang dari awal kokoh menjadi seperti kapur rapuh, hilang memutih ditelan air waktu mengkeruhmu Masih ingat awangku tentangmu saat sayapmu masih dua ketika kau mampu terbang ke nirwana tidak tinggal setengah begini jatuh menggelepar, lumpuh, kakimu piyu napasmu cuma tinggal satu Apa kakimu sekarang terpaku namun mereka tidak menyayat lidahmu dan [...]

Baiquni bacain donkBelum ada komentar

Diantara Kepungan Debu

Bagaimana peluh? pernah dia bercerita kepadamu saat air garam melewati pori dan napas tersengal ketika urat-uratmu kelelahan Sudahkah engkau bercerita kepada tujuh keturunanmu dari temurun ketika ragamu usang dan pundakmu peot kau masih tersenyum Dan pernahkah engkau mengeja bagaimana terik mengupas ari saat pigmenmu bergumul dan hitam mentato epidermismu kau masih tegar di situ juga [...]

Baiquni bacain donkBelum ada komentar

Switch to our mobile site


116 queries in 1.149 seconds.