Lelaki Sepi
puisi jiwa Cuma ada 2 komentar »Lelaki sepi,
bernafas tanpa hembusan
berjalan tanpa bayangan
duduk sendiri meringku kesepian
hampa
itu aku.
Lelaki sepi,
bernafas tanpa hembusan
berjalan tanpa bayangan
duduk sendiri meringku kesepian
hampa
itu aku.
A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right
But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Bidadari, mengapa tak pernah jeda diriku memikirkanmu?
Ku melihat di langit sana, namamu dalam catatan takdirku
berharap kelak Tuhan tak mengubah nama itu
terlalu dalam pena takdir menulis namamu
dalam catatan takdirku
Semoga Tuhan tidak sedang bercanda
ketika menuliskan namamu dalam namaku
kita laksana satu jiwa dalam dua jasad yang berbeda
bersatu kelak kita dalam alam mayapada
Bidadari,
tak pernah jeda diriku memikirkanmu
sehasta, sedepa, selangkah, selari, secahaya
kau ada dalam ulu hati
menjadi rusukku
Bidadari,
namamu begitu menggangguku
melukis ia tak pernah berhenti
bahkan darahku telah tertulis namamu
Mata lelah, mengabur sajalah
Tak perlu dibuka, tutuplah
Tidurlah engkau dan butalah
menulilah tak perlu mendengar
teriak-teriak cuma igauan
mimpi akan segera usai kawan
Langitku abu-abu
tak gelap dia juga tak biru
cuma seperti sketsa buram
ditutupi asap tebal dari hutan yang terbakar
segaris tipis
ketika purnama tak lagi singgah
dan awan putih menjadi tak berwarna
Teriaklah para anakku
jendela waktu terus terbuka
semua memasukinya
dari koruptor hingga esek-esekutor
dari banci tampil hingga orang bugil
darimu aku dan mereka
sejarah tercipta
Gadailah rasa kenyangmu
tak perlu takut dengan ketakutan
tak perlu cemas dengan kecemasan
tak perlu lapar dengan kelaparan
kita adalah pembela-pembela
berdiri di sini untuk terus berteriak
bahwa salah tetap tak pernah menjadi suatu kebenaran
Namun ideo menyumpah menjadi serapah
menuhan kita akan dia
bentrok kita saling sikut untuk siapa yang terbenar
tak pernah menjadi welas
kemarahan dari taring-taring ganas
dan anak-anak hanya akan terluka
dan darah menjadi keringat yang akan terus mengucur
ideo hanya pemikiran sayang
dan Tuhan ada sebelum semuanya terlahir
Cukuplah engkau hidup satu hari
tak perlu ego dengan seribu tahun
satu hari yang jernih lebih berarti dari seribu yang kelabu
di sini pasir anak manusia yang terlentang
diapit jiwa tercerabut paksa
salahkah mereka?
cukup cuma engkau yang mengerti
aku tak lagi mampu merangkai kata
gaudum manga syiala kabambum
durito eman noiwqsja toaakahsgsa
akgausg emhea lalauh
ysncpay xtaagals aksalooo
wjajangalsa lfsamgafasda bogkoo
berbicara dengan kata tak akan bermakna
jika hati tak terbuka
kembali menjadi lingkaran
bahwa dalam setiap kejahatan terdapat setitik putih
dan dalam tiap putih ada hitam
ledaklah semua
serpihan dari abu hasil bakaran
akhirnya
Langitku abu-abu
Baiquni bacain donk »
Tahukah engkau?
selaksa rindu membelengguku
memaksaku untuk terus mencintai
padahal aku telah mengering rapuh, dan dahaga telah hilang diganti kesunyian
Tahukah engkau?
ku temukanmu di jejaring manusia
ku minta engkau menjadi sahabatku
ku singgahi yahoo mu
namun kau membalasku dengan diam
tersudut aku tak mengerti
aku pun mulai mengeja langkah
mungkin telah ada yang salah
Aku berbisik pada seorang temanku
“Wahai gajah, aku menemukan taman surga”
gajahpun bingung
“taman surga kedua,” balasku
gajah cuma tersenyum, seolah dengan sejuta arti
bodohnya aku, sama sekali tak mengerti
Dalam lubuk, nama itu masih terus teringat
sedetik tak mampu lupa
mungkin hanya bidadari yang mampu menyapunya
entah bagai abrasi pantai atau topan badai
sunggu aku tak mengerti
mungkin tidak untuk saat ini
Oh cinta…
badai hatiku menggerus
tak tersisa sedikitpun jeda
mungkin aku harus segera mati
dan bidadari surga menanti
Jika suaraku cuma hingga laring-laring
terhenti getaran tak menimbulkan bunyi
dan lidahku kelu
menjadi bisu aku
Dan sadarkah engkau?
bagaimana sepi meredam bunyi
memaksa sepi meringkuk erat
dan kebebasan jiwa sekarat dalam badan
Aaaaaggghhhhhhhh……!!!
Runtuhlah langit
kacaukan saja bumi
teriaklah seluruh umat
agar sepi hilang dalam kekalutan
dan sunyi tak pernah singgah dalam kekacauan
itu lebih baik
Goyangkan singgasana Tuhan
agar dia ikut turun bernyayi
menghentak sepi jauh mendesak ke dalam neraka
dan tumpahkan seluruh neraka dan surga
agar bersorak sama-sama kita
dan sepi hanya menjadi mitos
dongeng perkataan orang-orang terdahulu
Meradang Sepi,
gigilku mengguncang bumi
langitpun patah-patah
“Mengapa kesepian bisa sedemikian hebat?”
dan Tuhanpun terbahak
lampion-lampion telah kumatikan semua
tak pernah ada yang tahu
ssttt… aku meringkuk sendiri
pojok sudut ruang dingin pengap dan lembab
jangan ada yang tahu: aku sedang meradang sepi
Cinta bergelut
memaksaku memayapada
namun aku berontak
“biarkan aku sendiri!”
menikmati keindahan sepi
langitpun gugur
rontoklah semua bintang
dan gunung-gunung berhamburan
ibu hamil melahirkan anaknya
semua orang berontak, berteriak, berlari tak tentu arah
dan bumi telah habis usia
namun aku terpaku diam, sepi sungguh lebih hebat dari itu
kemari… ayo kemari
menikmati secanggir teh dari kesunyian
dan melahap cemilan dari kesendirian
lalu terbaring pulas, setelah kenyang
kita bermimpi tentang kesepian
Owh,
lagi-lagi Tuhan terbahak
dikiranya lucu!
menuliskan jalanku di kitab dengan kosakata sepi
membiarkanku sendiri
Tidak,
telah ada yang salah
aku tidak sepi, aku tidak sendiri
masih ada Tuhan yang terbahak
menertawaiku meradang sepi
saat itu kamu adalah satu dari sejuta
lantas mengapa harus tersungkur
padahal kamu dulu adalah pejuang
lantas mengapa sekarang menjadi pecundang
terlalu lama melupakan
bahwa tiap jalan ada tuntunan
terlalu lama melupakan
bahwa kamu berjalan dengan kekuatan
setelah sekian lama terhenti
apakah telah lupa nikmatnya usaha
atau haruskah kecilmu dikembali
atau bahkan ketika kau hanya setetes mani
tersenyumlah
perjuangan itu indah
untuk beribu kemenangan yg berharga
semakin rintang cobaan
semakin indah arti kemenangan
tidak percaya?
sekarang aku malah bingung
malu menyebut nama setelah lahir cinta
takut-takut nama akan menjadi belati
menghunusku dalam…
ahh, cerita sang pengecut kembali terukir
haruskah seperti itu?
pengecut ditandai dengan katakan tidaknya cinta
haruskah seperti itu?
pengecut adalah mereka-mereka yang tidak punya malu
lantas kemana sabda nabi,
saat dia berkeras kata:
“jika sudah tidak punya malu, maka lakukanlah sesukaku”
kemana?
matikah kata itu ditelan jaman?
atau telah menjadi pasir yang tersapu ombak
salahkah bila aku malu?
salahkah bila nama itu hanya terkata dalam relung
salahkah bila nama tak pernah terucap
ini karena malu
bukan karena aku pengecut
maaf teman,
aku bukan pengecut
terlalu salah engkau menduga
mengapa lelaki menangis?
bukankah lelaki adalah dewa
yang tidak memiliki hati dan jiwa
namun mengapa air mata tetap tumpah dari mata itu
sudah berubahkah?
atau ini puncak klimaks
mengapa lelaki menangis?
apakah hari ini akhir kisah bumi?
atau telah tertulis dalam catatan takdir bahwa kisah akan berbalik
untuk apa air mata itu keluar
apakah untuk sesuatu yang besar dan berat atau hanya sekedar remeh
dewa langitpun terhenyak bingung
engkau menangis di hadapan Tuhan
namun hatimu masih tetap hitam
dan Tuhan tersenyum bangga: menangislah… bahkan lelaki memiliki air mata
dan Kuciptakan sama dia dengan hati di jiwa
mengapa lelaki menangis?
apakah tak ada yang mengerti dirimu
bukankah kamu bertindak agar tak dimengerti
tolong mengertilah
apa harus selalu terucap
apa yang ada di hati lelaki
atau masihkah kamu memegang ragu
bahwa lelaki tak pernah punya hati
Recent Comments