Lelaki Majemuk

puisi jiwa 1 Komentar »

Engkau tidak asing,
tidak juga sendiri
lelaki majemuk.

Bahasamu masih sempurna,
tutur katamu masih seperti dulu
ketika lantang suara membuka mata
waktu azan pertamaku

Engkau masih tersenyum,
tidak pernah kaku
hanya kulitmu mulai memudar
dan peyot punggungmu kentara

Seperti dulu,
sebelum matahari muncul kau telah pergi
dan akan kembali ketika matahari benar-benar mati
untukku, dan semua naunganmu

Kita memang tak serupa,
kadang aku membantah, kadang engkau
masing-masing kita melihat jalan dalam hidup
ada banyak pilihan untuk digenggam

Lelaki majemuk,
tak akan pernah sendiri lagi tak asing
inginku selalu mewarta tentangmu
tentang rinduku yang terus membumbung
bahkan sebelum habis usia.

Baiquni bacain donk »

Jika Senyum Telah Mati

puisi jiwa Cuma ada 2 komentar »

Jika senyum telah mati
engkau bagaimana?
saat warna gigi tak lagi putih
juga tak menguning
cuma ada sapuan merah bibir
sunggingmu terkubur

Dulu bahkan aku bisa melihat
jelas di retinaku warna lidahmu
kau mengakak
keras, bahkan langit pecah
namun sekarang cuma ada diam
bahkan lebih membisu dari tembok-tembok berlumut

Aku harus bagaimana
pesan telah terkirim
dering masih menyisakan gema
namun kamu diam, tak membalas
kalut aku dalam kebingungan
menunggumu tersenyum

Aku tak mengerti
bagaimana senyum itu mampu hilang
mukamu cuma datar tak memberi kabar
atau memang telah waktunya
bahkan senyumpun memiliki masa

Baiquni bacain donk »

Jalan Tuhan Cuma Satu

puisi jiwa Kagak ada komentar »

Engkau gugur
hancur menjadi cabang
dari awal kokoh
menjadi seperti kapur
rapuh, hilang memutih ditelan air
waktu mengkeruhmu

Masih ingat awangku tentangmu
saat sayapmu masih dua
ketika kau mampu terbang ke nirwana
tidak tinggal setengah begini
jatuh menggelepar, lumpuh, kakimu piyu
napasmu cuma tinggal satu

Apa kakimu sekarang terpaku
namun mereka tidak menyayat lidahmu
dan tidak merantai tanganmu
maka bicaralah lalu tulislah
semua bahasa, kata, aksara
agar mereka tahu apa yang engkau tahu

Benar itu mutlak
jika Tuhan kata dia satu maka satulah
tak ada anak atau diperanak
maka tulislah
katakan kepada seluruh bangsa
bahwa Tuhan itu Esa

Mengapa takut
apa kata manusia itu buatmu kalut
lantas kau ikut mereka
dustakan Tuhanmu lantas menari bersama
kau juga ikut-ikut kata bahwa tentang Tuhan adalah dusta

Jangan jadi pengecut
jangan takut perutmu susut
jangan dusta
jangan dusta
jangan dusta
tetaplah dalam satu kata: Tuhan itu Esa

Hati-hati dengan ra’yu
kau bermain-main api di atas wahyu
jangan sekali-kali jangan
utamakan wahyu baru kemudian pikirmu
jangan kau pelintir wahyu cuma karena napsumu

Aku beri sayap agar engkau terbang
di atas kepala orang-orang
bilang kepada mereka
jalan Tuhan cuma satu

Baiquni bacain donk »

Diantara Kepungan Debu

puisi jiwa Kagak ada komentar »

Bagaimana peluh?
pernah dia bercerita kepadamu
saat air garam melewati pori
dan napas tersengal
ketika urat-uratmu kelelahan

Sudahkah engkau bercerita
kepada tujuh keturunanmu
dari temurun
ketika ragamu usang
dan pundakmu peot
kau masih tersenyum

Dan pernahkah engkau mengeja
bagaimana terik mengupas ari
saat pigmenmu bergumul
dan hitam mentato epidermismu
kau masih tegar
di situ juga ada senyum

Diantara kepungan debu
demi anakmu
demi cucu yang belum terlahir
kau membangun rumah-rumah batu
dengan tiang pancang menusuk bumi
kau beri mereka hidup
demi manusia hingga akhir waktu

Dan teriakan-teriakan muncul
sesekali uratmu menegang
matamu rabun dan mereka membuta
tersenyummu tak tersampaikan
ceritamu dianggap usang
hingga akhir waktu kau masih tersenyum
diantara kepungan debu

Baiquni bacain donk »

Dan Waktu

puisi jiwa Kagak ada komentar »

kau tahu?
berapa juta detik aku telah berdiri
mulai teriak, merangkak, melangkah
untuk setiap debar jantung
untuk semua nafas yang terhembus
waktuku tak mampu surut
barang setapak

aku rindu pulang
kembali ketika aku masih menjadi satu dari sejuta
kembali ke tempat kelam
diantara delapan belas purnama

waktu tak pernah membuatku menang
bahkan ketika semua mengantarkan ku pergi
hingga aku tinggal sendiri
semua debar itu terasa
dari peluh yang banjir lagi membara
tak juga aku menang

ketika waktu mengantarkan
saat gunung telah lepas
dan lautan telah kering
ketika kita semua bertelanjang
aku tidak juga menang

menang membuatku berhenti
kalah membuatku berlari
aku cuma ingin tersenyum
diakhir waktu

Baiquni bacain donk »

Bunuhlah

puisi jiwa Cuma ada 5 komentar »

Bunuhlah!
semua ego, ideo, dan dokrinmu
tak perlu kau ucap di sini
tak butuh kita
hanya ada Tuhan di sini

Baiquni bacain donk »

Rokok

puisi jiwa Cuma ada 3 komentar »

Kau kira merokok itu seperti seorang lelaki,
tapi bagiku perokok lebih seperti banci
tanpa rokok kau tak merasa lelaki

Baiquni bacain donk »

Cahaya, Sepi, dan Waktu

puisi jiwa Cuma ada 5 komentar »

Diantara kelam, ku berharap engkau datang
andai kau tahu bagaimana rasa kesepian
atau ketika malam tak berbintang
dan waktu berhenti berjalan bersama gerakan
seluruh dunia, bayu, dan rotasi terhenti
kita berirama bersama diam

Pernahkah engkau melihat bagaimana cahaya melesat?
diantara pertentangan gelombang dan partikel
tak peduli dia diantara ruang hampa
atau ketika hitam menyelimuti semesta
cahayaku tak pernah sampai ujung surga

Baiquni bacain donk »

Semua Butuh Arah

puisi jiwa Cuma ada 2 komentar »

Kau tahu?
ingin rasanya kugulung seluruh bumi
atau kukeringkan samudera
hingga dunia semuanya sahara
namun belumlah cukup
bagaimana rasanya cinta menjadi prahara

Kau tahu?
everest yang menjulang
atau atlantik yang dalam
itu belum cukup untuk menggambarkan
semua cintaku dari hati terdalam
bahkan tujuh langit seolah tak berarti
atau bayu yang mengitari bumi
sungguh, cinta ini teramat dalam

Baiquni bacain donk »

Lelaki Sepi

puisi jiwa Cuma ada 2 komentar »

Lelaki sepi,
bernafas tanpa hembusan
berjalan tanpa bayangan
duduk sendiri meringku kesepian
hampa
itu aku.

Baiquni bacain donk »

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in