Aku rindu dia. Bidadari ketiga.
Lama tak ada kabar, sudah dua hari lebih tak saling sapa. Aku rindu. Bertubi rindu. Rindu sekali.
Aku ingin bilang bahwa “aku suka dia“: tapi tak berani.
Aku belum mampu. Belum lagi tangguh, dan tegak punggungku berdiri.
Namun hati ini juga sakit. Awalnya kukira rasa yang tersimpan dalam hati ini memiliki celah untuk sebuah balasan, namun diagnosaku salah. Bukan aku yang sedang ada di dalam hatinya.
Aku tak peduli. Tak peduli dia cinta padaku atau tidak. Aku cuma mencintainya, cukuplah itu, telah tertulis hal tersebut dalam buku catatan takdirku.
Bertubi rindu. Menunggu balas, entah kapan tiba. Aku rindu.
Tulisan lain:


cie cie..
eh ben, bukannya kamu mau ikutin apa yang dikatakan Abraham Lincoln, “Dari seluruh waktumu menebang pohon, pastikan setengah dari waktu itu adalah mempertajam senjatamu.”
Bertupi? Buka bertubi?
Alahlah…
Dekatin ja MRnya trus.. Hehe..
Siapin mahar juga dikit2.. Lamar trus.. Kalau mudah dibuat susah, gakkan jadi2 usaha..
Semoga dipermudahNya. Amin..
lah rif, sekarang kan aku mencintainya. Proses yang kukatakan dengan pepatah itu adalah proses kalau aku benar-benar siap melamarnya nanti.
Iya, butterfly, bertubi yang benar. Terima kasih.
bidadari ketiga… bidadari ketiga…
bikin repot hidupmu aja tuh makhluk, ben..
bilang aku kalo dia menyakitimu..
kalau aku bilang, kamu mau apain dia rif?
aku akan bilang, “Hei, jangan sakiti temanku.. because i’m his warrior princess… ” hahahaha….
wah, aku termasuk pria yang beruntung kalau begitu rif.
sepakat..
btw, kenapa kamu tidak tidur?
aku merasa lemah sekali euy hari ini…
aku baru bangun. Biasa, di sepertiga malam
cemen =)) ga berani =))