Perempuan Bergincu Darah

bibir berdarah
sumber: metrobali.com

Sabtu, 28 Februari 2015. Ketika berjalan hendak ke kampus, saat itu aku melihat seorang anak manusia berjenis perempuan melewatiku. Dari kedua matanya ada riak air yang belum lagi habis terselesaikan. Bibirnya telah pecah. Darah banjir diantaranya. Entah, mungkin oleh sentuhan kelewat keras yang mengisi hari-harinya. Di sisinya, ada seorang lelaki yang sebaya dengannya, berjalan dengan wajah tegang.

Mereka berjalan cepat. Bahkan sekarang telah melewati punggungku. Kepalaku berpaling, menoleh ke belakang, dari kedua mulut mereka kembali muncul serapah. Aku memejamkan mata sejenak. Berdoa kepada Tuhan untuk mendamaikan mereka berdua.

Ingin rasanya aku berlari menuju keduanya, bercerita bahwa cinta jauh lebih indah daripada bergumulan yang menciptakan darah. Memisahkan mereka yang sedang dimainkan oleh setan, yang mengalir melewati darah. Memisahkan mereka yang sedang membenci satu sama lainnya. Tapi aku tak bisa! Yang entah bagaimana, langkahku seperti tidak menurut dengan apa yang hatiku titahkan. Dia terus berjalan menjauhi keduanya, membiarkan mereka meneruskan episode drama kehidupannya, dan aku menikmati hidupku sendiri, yang jauh dari masalah.

Continue reading Perempuan Bergincu Darah

Sebelum Cahaya

Menonton video dan mendengarkan lagu di atas, kadang membuatku menangis. Terutama untuk mereka yang hadir bahkan sebelum cahaya datang. Demikianlah embun. Yang ketika sinar telah menghangatkan, mereka hilang dalam jejak yang tidak tertinggal, tidak pun di dedaunan.

Sering sekali, seumpama embun, hadir dalam kehidupan kita. Hanya saja, kita menjadi abai. Pandangan kita tertutupi, entah oleh ego, ambisi, harapan, atau kenyataan. Mereka yang terus datang sebagai penyejuk, seringkali kita lupakan.

Saat aku mendengarkan lagu ini, aku sering sekali memikirkan kedua orang tuaku. Orang tua yang sering sekali begitu tulus dalam pondasi perjalanan kita, namun hampir selalu kalah oleh segelintir teman, kekasih, atau kehidupan yang datang baru kemudian. Demikianlah kita, menjadi manusia yang lupa rasa. Menjadi manusia yang terlalu sering alpa.

Continue reading Sebelum Cahaya

Hi Blog!

Baru Hati
sumber: blog.kanjurmarg.com

Hai blog! Lama rasanya kita tidak saling bertegur sapa. Tidak juga aku sering datang ke sini untuk melihatmu seperti dahulu. Tidak ada lagi rasa bahagia saat aku menuliskan segalanya di sini. Aku, seperti merasa bukan lagi aku.

Kau pun diam. Tak memanggilku seperti dahulu. Sangat diam. Kau berubah! Menjadi makhluk mati yang memang mati. Tidak lagi melakukan tarian aneh yang berhasil memanggilku keluar, untuk segera meneteskan air mata saat menulis tiap kalimat yang bertitah di tubuhmu ini.

Kau seperti tidak lagi peduli denganku. Merasa aku telah dewasa, tidak lagi penting untuk berkeluh-kesah. Atau sekedar menangis saat cinta pupus dalam perjalanan takdir. Kau, sekarang abai denganku. Menjadi acuh. Sama seperti orang-orang yang aku benci.

Apakah kau rindu? Denganku tentu. Adakah?

Continue reading Hi Blog!

Sheila On 7 – Itu Aku

Saat buka Youtube, entah kenapa lagu-lagu Sheila on 7 muncul di layar utama. Dari mendengarkan lagu Pemuja Rahasia, dan sekarang Itu Aku. Di antara seluruh lirik, yang paling aku suka pada bagian “Tahukah lagu yang kau suka / tahukan bintang yang kau sapa / tahukah rumah yang kau tuju / itu aku“.

Menjadi seseorang yang dicintai oleh orang yang kita cintai, rasanya seperti sebuah nikmat di antara nikmat yang luar biasa yang diberikan Tuhan kepada manusia. Nikmat untuk saling mencintai dan merasakan cinta itu sendiri :)

Continue reading Sheila On 7 – Itu Aku

Dia Dia Dia

Rindu
sumber: icysnowhite.blogspot.com

Ada sebuah rasa yang hadir di dalam diri setiap anak-cucu Adam yang bernama rindu. Sebuah rasa hebat ingin bertemu, berjumpa, dan melihat rupa. Sesuatu yang jika telah jumpa, maka pisah bukanlah sebuah jawaban ataupun opsi. Hampir-hampir, tidak boleh ada kosakata yang bermakna pergi atau berpisah yang hadir, jika rasa itu telah muncul. Iya! Demikianlah adanya.

Kamu yang membaca tulisan ini pun mungkin telah merasakan hal yang sama. Segala rasa yang terkumpul di dalam dada. Perasaan berkecamuk hebat yang ingin segera dituntaskan: bahkan hanya dengan sebuah suara yang hadir atau tulisan yang datang tiba-tiba.

Menunggu. Terkadang itulah alasan mengapa perasaan ini hadir. Perasaan yang akan selalu hadir pada seluruh anak-cucu Adam di dunia ini. Siapapun dia. Perasaan menunggu yang saat telah cukup terkumpul akan menciptakan kerinduan hebat yang bahkan pribadinya akan sulit mengungkapkannya. Hanya hati yang mampu berbicara, namun tidak ada lisan anak manusia yang mampu merapalnya.

Continue reading Dia Dia Dia

Sebuah Garis Lurus

Hampa
Sumber: kerangrebus.com

Seseorang yang aku cintai di dunia ini terkadang bertanya, mengapa aku sudah jarang menuliskan lagi sebuah lagu kehidupan seperti yang dulu-dulu di dalam blogku ini. Dengan berkelakar, aku selalu menjawab: tak ada lagi yang perlu aku tuliskan. Segalanya telah sempurna sejak engkau hadir dalam hidupku.

Aku memang jarang melirik lagi blog ini. Cuma sesekali aku melihatnya. Bayangkan, aku pribadi saja telah malas melihat blog ini, apalagi mereka yang lain? Terkadang aku merasa capek. Terlalu lelah dengan segalanya.

Sudah beberapa hari ini aku merasa begitu datar. Bahkan ketika aku tidak bisa menjawab semua soal UAS (Ujian Akhir Semester) dengan sempurna, aku tidak merasakan apapun, tidak juga kesedihan. Aku merasa datar saja. Teramat datar. Seperti sebuah garis lurus sempurna. Seperti melihat sebuah osiloskop tanpa ritme dan gelombang. Yang terpampang cuma garis datar tanpa akhir.

Kepada seseorang aku katakan sebuah kejujuran: aku merasa hampa sekali. Kekosongan yang tiada akhir. Dan ironi, bukankah dulu ini yang aku cari. Sebuah perasaan kosong tanpa mengenal cinta, suka, bahagia, rasa sedih, dan seluruh nestapa juga nelangsa. Bukankah ini yang selama ini aku cari?

Dan dia — temanku — menjawab: mungkin Tuhan sedang akan mengisinya dengan seluruh kebaikan.

Continue reading Sebuah Garis Lurus