lowongan IT Bank Jateng

My False Algorithm

Minggu lalu, sehabis pangkas rambut ditemani Fadhli, sembari menunggu hujan reda kami berteduh di sebuah kios yang menjual mie aceh, di daerah Tubagus Ismail. Di kedai itu, aku pun mulai membuka koran dan terfokus pada sebuah iklan lowongan pekerjaan namun dibungkus dengan sesuai yang menarik: CODE CHALLENGE dari Bank Jateng.

lowongan IT Bank Jateng
lowongan IT Bank Jateng

Tanpa pikir panjang, aku pun mulai mengambil secarik kertas untuk mencoba membedah kode yang mereka berikan. Sebuah kode singkat, tidak terlalu sulit, bahkan hanya cukup copy paste. Tetapi karena saat itu aku tidak membawa laptop, maka kodenya coba aku jabarkan di dalam secarik kertas.

(more…)

Read More

Blind traveler

Kita Yang (Mungkin) Buta

Beberapa waktu yang lalu, aku bertemu dengan bapak itu. Saat baru kembali dari Rancabolang untuk mengantarkan buku hadiah bersama Ilham, temanku. Waktu itu kami telah terlambat sampai di Salman, jam telah menunjukkan pukul 16.38 WIB, terburu aku segera menuju tempat wudu untuk segera menunaikan salat Ashar. Aku melihat bapak itu setelah selesai wudu, dia bersama dengan seseorang yang mungkin istrinya, sedang mencoba memetakan arah dari tongkat yang ada di lengannya.

Aku bertanya, apa dia juga hendak berwudu?

Ketika dia meng-iya-kan, aku pun jeda untuk menunggunya sampai selesai. Berpikir untuk menuntunnya naik ke lantai Salman. Bahkan saat dia hendak shalat, dia bertanya soal kiblat. — Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban

Aku pun menutup mata. Berpikir betapa melelahkan ketika kita menjadi buta. Bingung soal arah. Hidup dalam episode gelap tanpa cahaya. Tidak melihat tentang warna, cahaya, dan seluruh rupa. Dan betapa beruntungnya aku, menjadi saksi untuk setiap babak di mana putih menjadi segala warna.

(more…)

Read More

Apatisme

Manusia Apatis

Aku sedang duduk di depan kantin Salman. Seorang nenek bongkok sedang tertatih berjalan. Dengan memelas dan lirih dia mendatangi seorang demi seorang, tidak mengemis melainkan menjajakan jualan yang ada di kreseknya. Tetapi, setiap orang yang didatanginya cuma menggeleng. Abai dengan apa yang terjadi. Atau, seperti aku, pura-pura untuk tidak peduli.

Orang-orang menjadi apatis. Dan aku tidak mengerti darimana sumber segala sikap ketidakacuhan mereka itu. Sama seperti aku tidak mengerti diriku sendiri. Padahal, wajah-wajah yang aku lihat di sini, adalah wajah penuh kesalehan. Wajah yang seumpama purnama di malam gelap tanpa bintang. Dan perempuan-perempuan pun, mereka adalah bentuk keindahan. Hanya saja…

Nenek yang berjalan tertatih itu sudah menghilang. Tidak lagi aku melihat bayangannya, tidak pula harum seluruh porinya. Bahkan tidak ada bayangan apapun yang melekat di ingatan semua orang. Menghilang sempurna.

(more…)

Read More

Packing

Pindah Kosan

Mulai tanggal 1 Desember 2015, aku resmi pindah lapak. Aku pindah kosan dari Cisitu Baru ke Kebon Bibit, dengar-dengar sih dekat dengan rumahnya Anisa Cherrybelle tapi aku ga tahu yang mana orangnya. Alasan aku pindah karena kosan di Cisitu Baru katanya akan diubah menjadi kosan cewek, atau kosan campur. Jadi, cowok di lantai atas dan cewek di lantai bawah. Daripada terjadi hal-hal yang diinginkan, ya lebih baik aku pindah. Hehehe…

Aku berterima kasih banget ke teman-temanku: Fadhli Dzil Ikram, Yura Muhammad, dan Faza Satria Akbar yang udah bantu-bantu aku packing dan pindahan. Mas Fadhli yang udah setia bantu aku angkat lemari, Yura yang mau dipinjam mobilnya buat bawa ini-itu, dan Faza yang bantu cari kardus sampai ke Dipatiukur. Entah bagaimana episode packing aku tanpa kalian di sisiku… hiks hiks hiks… #drama

Kamarku di Kebon Bibit tidak seluas di Cisitu Baru, mungkin setengah luas dari Cisitu Baru dan kamar mandinya pun di luar. Tapi tidak apa-apa, selama kamarnya memiliki jendela dan masuk cahaya matahari, bagiku sudah cukup. Toh, kamarku cuma digunakan untuk tidur dan belajar. Harga di sini juga lebih murah dan sudah termasuk cuci sama internet Indihome 10 Mbps.

(more…)

Read More

Ibu Warung

Ibu-ibu Warung

Beberapa waktu yang lalu aku menemukan langganan tempat beli nasi yang baru. Aku memilih karena harganya lebih murah dari tempat yang biasanya aku beli. Warung padang ini menurutku lebih murah, satu porsi nasi dengan lauk telur dadar cukup merogoh kocek sepuluh ribu. Sebenarnya ada tempat lain yang lebih murah, yaitu di warung padang Simpang Tigo yang dekat Mesjid Salman ITB. Aku diperkenalkan tempat itu oleh teman labku, mas Yonan. Dulu, di Simpang Tigo, pakai ayam cuma sepuluh ribu!

Singkatnya, aku pun mulai terasa akrab dengan ibu penjaga warung padang itu. Walau tidak sampai tahu siapa nama ibu itu, paling tidak setiap aku mampir untuk membeli si ibu langsung tersenyum. Hal yang tidak biasa dia lakukan ketika awal-awal aku membeli, menjadikan indikator bahwa tampangku sudah dikenal dan ditunggu. Aku juga mulai berani bertanya kekurangan lauk yang tidak hadir dalam porsi nasiku, terkadang. Misal, aku bertanya tentang kelangkaan daun ubi (di Bandung, orang lebih sering menyebutnya daun singkong .pen) yang aku suka. Dari kegiatan bertanya itu, aku mulai mendengarkan curhat-curhat ibu warung.

Ibu warung terkadang mengeluh, terutama saat aku bertanya tentang ini-itu pada lauknya. Tentang kelangkaan daun singkong, harga barang yang naik, dan sebagainya. Dan aku, dengan kalemnya cuma mengangguk manut tanpa menimpali.

(more…)

Read More