Perlakukan Semua Makhluk Dengan Sepantasnya

Saya melihat video ini di Youtube dan merasa sangat sedih. Mengapa hewan diperlakukan dengan sedemikian rupa? Tanpa rasa belas kasihan, tanpa rasa terima kasih.

Dalam Islam, hal demikian sangat terlarang. Cuma boleh memakan hewan yang disembelih dengan menyebut nama Allah dan dengan sebaik-baik penyembelihan. Itulah mengapa teramat dianjurkan untuk menajamkan pisau setajam-tajamnya sebelum menyembelih hewan. Jangan sampai ada penderitaan saat mereka mengakhiri kehidupan.

Semoga video yang saya lihat, segera berakhir dan tidak ada lagi penyiksaan terhadap hewan.

Laron dan Api

Terowongan Cahaya
sumber: devilockers.blogspot.com

Saat seseorang berbicara bahwa Tuhan berlaku tidak adil kepadanya. Ketika dia bercerita bahwa saat menjadi seorang ateis hidupnya baik-baik saja, namun ketika dirinya mulai mendekati Tuhan, maka seluruh keburukan yang tak pernah dia bayangkan hadir. Saat itu, aku menjadi terenyuh. Hatiku bergetar. Perlahan, air mata tumpah. Dia telah menyakiti Tuhan!

Bukankah emas tidak akan menjadi murni sebelum dipanaskan? Demikian pula iman tak akan murni sebelum diberi cobaan. Maka apakah kamu akan dibiarkan berkata bahwa “kami beriman” sebelum dicoba.

Tidak cuma sebuah hubungan. Bahkan ketika engkau merangkak menuju Tuhan, engkau pun akan dimintai bukti. Semurni apa cintamu padaNya. Bahwa cinta tidak cuma sekedar kata-kata. Agar tak menjadi basi dia adanya.

Continue reading Laron dan Api

Nikmat Manakah Yang Engkau Dustakan?

meraba jalan
sumber: viva.id

Awalnya aku biasa saja. Tidak peduli sama sekali. Sampai kemudian, dudukku berpindah di samping lelaki itu. Dia mengangkat handphonenya, mendekatkan ke telinga, sambil mengetikkan beberapa huruf di keyboard handphone yang aku duga Nokia E63 atau sejenis BlackBerry Gemini. Agak aneh, pikirku saat itu. Bukan sesuatu yang biasa manusia normal lakukan, sampai kemudian aku melihat arah matanya, ternyata dia menatap dengan pandangan kosong. Lelaki itu buta.

Tiba-tiba saja, seorang ibu berteriak “kiri” memberi sinyal untuk turun. Tetapi angkot itu lambat reaksi. Berkali-kali sang ibu berteriak, “aduh udah terlalu ke depan ini“, sampai akhirnya angkot itu berhenti juga. Ternyata, ibu tersebut memberi sinyal untuk lelaki yang duduk tepat di sampingku ini.

Aduh, kasihan ini terlalu ke depan.” dengan wajah pias, sang ibu bersungut.

Lelaki di sampingku mulai turun, dengan kepayahan. Jarak antara angkot dengan jalan yang hendak ditujunya terlalu jauh. Harus menyeberang melewati berbagai kendaraan yang datang silih berganti. Sebagian acuh tak ingin berhenti. Terlalu egois untuk sejenak reda dalam aktivitas, memberikan jalan seorang buta yang hendak menyeberang.

Continue reading Nikmat Manakah Yang Engkau Dustakan?

Memungut Kerikil

kerikil
sumber: thewonderful7.blogspot.com

Pernah suatu ketika aku melihat seorang anak dengan hobi yang aneh: memungut kerikil. Karena tidak tahu dengan apa yang dikerjakannya, aku cuma berjongkok heran memperhatikan. Anak itu terus memilah, satu batu diambilnya, diperhatikan, lantas dibuang, batu yang lain pun demikian, sampai kemudian dia menemukan satu batu untuk disimpan.

Dasar anak-anak! Batu yang disimpan segera dibawanya pulang. Dan dalam perjalanan, ada raut kebahagiaan di wajahnya. Senyumnya mengambang. Terus berseri seiring langkahnya surut pulang.

Apalah arti sebuah kerikil, pikirku berhari kemudian. Namun, senyum semringah sang anak yang bahagia, sulit untuk aku lupakan. Sampai aku berkesimpulan: untuk bahagia, tidak perlu sesuatu yang wah. Cukuplah sesuatu yang sederhana untuk disyukuri.

Mengapa kita sering bersedih? Mengapa kita merasa bahwa dunia adalah kumpulan, irisan dari himpunan segala ketidakadilan dan ketidakbahagiaan. Bahkan, terkadang kita terus menguraikan segala alasan yang berujung kepada segala penderitaan kita. Sampai, pada satu titik, kita mulai menjadi mereka yang sering menyalahkan.

Tangan kita menunjuk si A adalah sumber penderitaan. Tak puas, kemudian kita menunjuk si B, si C, dan seterusnya. Bahkan setelah seluruh jemari telah habis menunjuk, tak luput kita membentangkan kertas dan mulai menuliskan nama-nama segala asal dari ketidakpuasan.

Continue reading Memungut Kerikil

Hati Yang Berbicara

holding hands
sumber: matthewsparty.com/

Masih ingatkah engkau, saat kita menghitung bilangan tahun. Dan sekarang, hanya menghitung bulan. Lantas kemudian hari, dan di ujung ada haru yang akan tumpah untuk setiap detik penantian.

Tapi, aku tak tahu apa yang menjadikan diam sebagai dinding. Apakah mungkin relief-relief yang kita ukirkan pada tembok-tembok ratapan membuat kita jemu. Atau, karena sibuknya kita mengalihkan segala sesuatu yang berujung rindu. Mencoba menekan sampai ke dalam sumsum tulang. Sampai-sampai, bahkan angin pun tak akan tahu.

Hatta, berminggu-minggu penantian aku rasakan bagai bilangan abad. Yang tidak mampu kuhitung kapan akan menciut menjadi tahun. Dan saat engkau mengabarkan kedatangan, maka sepenuh itu aku menjadi cemas. Apakah rupaku yang dulu kau lihat, masih tetap sama engkau cintai. Karena aku takut, elok rupa pria akan memalingkanmu dari dunia.

Lihatlah olehmu, dengan mata yang ada di kepalamu, tentang ringkihnya tubuhku semakin menjadi. Tentang uban-uban yang semakin lebat bersemai di kepalaku. Tentang mata yang semakin letih dan menjadi sendu. Dan urat-urat yang hadir menonjol di antara lenganku.

Continue reading Hati Yang Berbicara

Perempuan Bergincu Darah

bibir berdarah
sumber: metrobali.com

Sabtu, 28 Februari 2015. Ketika berjalan hendak ke kampus, saat itu aku melihat seorang anak manusia berjenis perempuan melewatiku. Dari kedua matanya ada riak air yang belum lagi habis terselesaikan. Bibirnya telah pecah. Darah banjir diantaranya. Entah, mungkin oleh sentuhan kelewat keras yang mengisi hari-harinya. Di sisinya, ada seorang lelaki yang sebaya dengannya, berjalan dengan wajah tegang.

Mereka berjalan cepat. Bahkan sekarang telah melewati punggungku. Kepalaku berpaling, menoleh ke belakang, dari kedua mulut mereka kembali muncul serapah. Aku memejamkan mata sejenak. Berdoa kepada Tuhan untuk mendamaikan mereka berdua.

Ingin rasanya aku berlari menuju keduanya, bercerita bahwa cinta jauh lebih indah daripada bergumulan yang menciptakan darah. Memisahkan mereka yang sedang dimainkan oleh setan, yang mengalir melewati darah. Memisahkan mereka yang sedang membenci satu sama lainnya. Tapi aku tak bisa! Yang entah bagaimana, langkahku seperti tidak menurut dengan apa yang hatiku titahkan. Dia terus berjalan menjauhi keduanya, membiarkan mereka meneruskan episode drama kehidupannya, dan aku menikmati hidupku sendiri, yang jauh dari masalah.

Continue reading Perempuan Bergincu Darah

Sebelum Cahaya

Menonton video dan mendengarkan lagu di atas, kadang membuatku menangis. Terutama untuk mereka yang hadir bahkan sebelum cahaya datang. Demikianlah embun. Yang ketika sinar telah menghangatkan, mereka hilang dalam jejak yang tidak tertinggal, tidak pun di dedaunan.

Sering sekali, seumpama embun, hadir dalam kehidupan kita. Hanya saja, kita menjadi abai. Pandangan kita tertutupi, entah oleh ego, ambisi, harapan, atau kenyataan. Mereka yang terus datang sebagai penyejuk, seringkali kita lupakan.

Saat aku mendengarkan lagu ini, aku sering sekali memikirkan kedua orang tuaku. Orang tua yang sering sekali begitu tulus dalam pondasi perjalanan kita, namun hampir selalu kalah oleh segelintir teman, kekasih, atau kehidupan yang datang baru kemudian. Demikianlah kita, menjadi manusia yang lupa rasa. Menjadi manusia yang terlalu sering alpa.

Continue reading Sebelum Cahaya