Lupa Menjadi Manusia

Maaf. Lama tidak menulis di blog yang mulai lembab, berdebu, dan rapuh ini. Selama aku lupa bagaimana menjadi manusia.

Aku seperti lupa menjadi manusia. Hidup ini rasanya berjalan dengan tidak aku sadari. Selalu menjadi mereka yang alpa. Parahnya, terus saja mengulang hal yang aku pahami untuk seharusnya tidak perlu diulang lagi.

Aku pun seperti mulai gagap dalam memberi sejumlah kata. Tidak ada arus kata yang sama seperti dulu. Sesuatu yang berasal dari hati, dan langsung masuk ke dalam hati. Lupa menjadi manusia membuat aku kehilangan banyak hati. Menjadi kejam dengan segala manusia, menjadi kejam dengan semua keadaan.

Terkadang aku menangis. Manusia yang dulu hadir kini hilang. Diganti dengan sesuatu yang terlalu jauh buruk. Terganti dengan sesuatu yang begitu hampa, tak bermakna, kekosongan, dan penyesalan. Anehnya, aku terus saja mengulang.

Aku merindukan kembali menjadi manusia. Sesuatu yang utuh. Bermakna. Menjaga dari keburukan dan terus menutupi seluruh cela. Sesuatu yang Dia mencintaimu, dan engkau mencintaiNya. Aku rindu saat-saat itu.

Aku benci begini! Tapi terus menetap tanpa mau membuat jejak. Berdiri terpatung, tanpa bergerak menghindari seluruh penyesalan yang terjadi. Aku benci!

Apakah engkau sama, teman? Teramat lupa bagaimana menjadi manusia. Terus saja ikuti seluruh jiwamu yang terkotori. Tidak pernah berpikir untuk mensucikannya. Terus saja mengotori, tanpa pernah menyesali tentang apa semua yang terjadi. Tidakkah engkau benci?

Aku ingin bebas. Tidak terpenjara dengan semua sesal dan kebencian yang mengukung. Mampu bernapas sedalam yang aku bisa. Ingin kembali melihat matahari dengan cahaya yang sama. Apakah engkau juga merasakan seperti yang aku rasakan, teman?

Beratus latin telah aku baca, namun yang ada cuma rasa hampa. Ingin sekali aku memelukmu, memeluk sesuatu yang tidakpun aku tahu apa itu. Hanya ingin memeluk sesuatu yang memberi rasa nyaman, mampu melepaskan seluruh duka dan sesal. Seperti dulu, saat tidur dalam lapisan cahaya.

Deteksi Dini Gangguan Jin

Berikut ini adalah metode rukyah untuk deteksi dini adakah gangguan Jin di dalam diri kita. Caranya adalah sebagai berikut:

  1. Dengarkan rekaman rukyah ini dengan suara keras, atau jika menggunakan headphone, keraskan suara di headphone
  2. Pejamkan mata dan JANGAN IKUT BACAAN AYAT-AYAT BAIK DI MULUT MAUPUN DI HATI
  3. Perhatikan. Jika Anda merasa salah satu tanda berikut: mual, pusing, terasa berdebar-bedar, mengantuk, pusing, jantung berdegub kencang, batuk, berpeluh-peluh, sendawa, menguap, kemungkinan besar Anda mengalami gangguan jin yang mungkin tidak Anda sadari. Hubungi ustad maupun tempat rukyah syariah yang bisa Anda hubungi.

INGAT!!! YANG SEBAIKNYA/HARUS ANDA HUBUNGI ADALAH RUKYAH SYARIAH, BUKAN GURU SPIRITUAL, PARANORMAL, DUKUN ATAU SEBANGSANYA!!! Continue reading

Random

blankSaya sedang duduk di kursi, di depan meja, berhadapan dengan laptop yang sedang menyala. Di sisi kanan saya ada teh yang tadi mengepul dengan asap putih tebal tetapi kini mulai memudar. Saya membuat teh lebih awal. Membiarkannya tetap begitu, dan akan mulai menyesap perlahan saat azan magrib berkumandang. Laptop saya masih menyala terang, di dalamnya layar admin WordPress terbuka, bersisi dengan tab facebook yang juga selalu ada. Saya cuma terpekur.

Pikiran saya jauh melayang ke antarpulau. Seseorang yang saya cintai sedang bekerja di pulau yang berbeda. Mungkin dia juga merindukan saya (harapan saya), atau bahkan mungkin saja acuh tak peduli. Siapa sih seorang saya? Tetapi saya benar-benar teramat rindu.

Kemarin mama juga mengutarakan hal yang sama. Sesuatu tentang rindu, begitu manusia bumi menyebutnya. Hal yang mengganjal di pikiran seseorang saat berharap kehadiran orang lain di sisinya namun tidak tercapai, sehingga yang mampu dilakukan adalah cuma memikirkan dan mengirimkan segala doa. Saya pun demikian. Sedang merindukan seseorang.

Continue reading

Selamat Tinggal Hitam

Apa kabar hitam?
lama telah kita tidak bertemu
namun, selama ini tidak pula aku kunjung rindu
bahagia terkadang
lega, telah meninggalkanmu
jauh, sangat jauh ke belakang

Janganlah duka merundungmu
Masih banyak hati yang lain
yang bisa kau masuki dan rasuki
tapi jangan aku, hilang nanti semua bahagia

Siang kemarin aku menangis
kau tak ada, tapi aku juga tak rindu
berharap kita pisah selamanya
tak ada lagi hitam, tak ada lagi kelam
aku teramat berharap: cahaya ini tak akan lekang

Selamat tinggal hitam
semoga perpisahan kita abadi
tak ada singgungan
menjadi asimtot
hendak bertemu namun tak pernah bergandengan

Tidakkah Aku Pantas?

Menjerit Sekuat Tenaga
Sumber gambar: istockphotos

Hal yang paling mengerikan dari seorang wanita pintar adalah egoisme yang begitu tinggi. Perasaan ingin selalu dituruti. Keinginan untuk terus di atas. Selalu ingin dipahami tanpa ingin memahami. Maka terkutuklah semua pria bodoh, yang menjadi tunduk oleh keegoisan-keegoisan tersebut. Namun, memang, kecerdasan wanita adalah hal yang paling eksotik di dunia. Tak pun mampu dikalahkan oleh bentuk juga rupa.

Aku sangat mencintainya. Teramat dalam. Tak pernah mampu terlukiskan. Bahkan oleh perputaran waktu yang pernah lewat. Cinta yang lebih dalam daripada saat hadirnya sang puteri, taman surga, maupun bidadari kedua. Bahkan ini cinta yang mampu melebihi rasa yang dulu pertama kali hinggap saat aku SMA.

Aku menangis saat menuliskan ini. Mungkin kami sama-sama terlalu muda untuk urusan yang menjadi wilayah manusia dewasa. Atau kami terlalu egois, untuk mengalah bersama. Memperturutkan keinginan, ego, dan hawa napsu. Seperti anak kecil yang terus menjerit memperebutkan apa yang menurut mereka menjadi haknya. Dan para dewasa cuma mampu tertawa dan terbahak. Seolah apa yang terjadi adalah hal terlucu di dunia.

Aku paling benci saat aku tidak dihargai. Seperti sampah yang terserak tanpa dikehendaki. Seolah boneka yang bisa dipeluk lantas dibuang sesuka hati. Aku benci. Sepenuh benci.

Continue reading

Manusia Tingkat Rendah

monyet
Sumber gambar: innercircleofsrcm.blogspot.com

Tahukah kamu, salah satu tingkatan manusia yang paling rendah? Yaitu mereka yang merendahkan orang lain. Baik dengan perbuatan mereka, ataupun perkataan yang menyakiti dengan tujuan merendahkan harkat dan martabat orang lain. Maka, sekali-kali, janganlah kamu termasuk kaum yang demikian.

Sering sekali kita berjumpa dengan orang-orang yang demikian. Mereka yang terdidik untuk merendahkan, yang mungkin juga dididik dengan cara yang sama seperti demikian. Lihatlah, bagaimana sedari awal, para anak yang belum begitu mengenal kebaikan dan keburukan dibiarkan mem-bully teman-temannya yang lain. Kita menganggap itu sesuatu yang lucu. Sampai kemudian, kita menjadi kewalahan dengan segala sifat yang sedari awal kita biarkan terjadi sedemikian rupa.

Kadang kita menjadi rendah saat membenci dan marah. Kita begitu mudah memaki, merendahkan, berusaha menghancurkan martabat seseorang ketika sedemikian hingga kebencian dan kemarahan telah memaksa mengambil peran akal sehat. Maka tidaklah jarang kita melihat pemukulan, makian, sering kali hadir dalam emosi yang memuncak. Patutlah nabi meminta kita berwudhu: untuk mengalihkan perhatian saat marah, untuk mendinginkan hati yang meledak, dan menghindari ulah setan yang akan ikut hadir dalam segala tindak.

Continue reading